Media Komunikasi Informasi dan Dakwah --- Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Minggir -- Fastabiqul Khairat .

Label

Minggu, 25 Januari 2009

REINTERPRETASI PENEGUHAN IDEOLOGI MUHAMMADIYAH

Entah kita sadari atau tidak, realitas yang ada menunjukkan sebagian besar masyarakat ber-Muhammadiyah lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan, warisan leluhur, ataupun pendidikan. Sebagian lagi bermuhammadiyah berdasar pada lelaku kehidupan yang panjang setelah menyelami berbagai Ormas keagamaan. Di masyarakat sering terjadi dikotomi terhadap ormas Islam dengan lebih menonjolkan pada amalan-amalan ibadah. Sehingga terjadi identifikasi sebuah ormas hanya berdasar amal yang umumnya mereka praktekan. Misalnya, Muhammadiyah identik dengan tarawih 11 rakaat, wirit siri, faham hisab, subuh tanpa qunut atau sholat ‘ied di lapangan. Dari sini sering yang terlihat lebih pada sikap ’Keakuanku´ meskipun sesungguhnya pilihan-pilihan ini merupakan hasil usaha jihad fikiran yang dilandasi atas pemahaman ruh syariat.

Fenomena ditingkat grass root terjadi proses kehambaran pemahaman ilmu atas ‘ijtihad’ Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah sendiri banyak yang belum faham landasaan dasar dan arah gerak Muhammadiyah seperti yang telah di letakkan KH. Ahmad Dahlan. Yakni faham keagamaan yang didasarkan atas Alquran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas serta meneladani generasi salaf. Krisis ini salah satunya disebabkan kerena Muhammadiyah kurang melakukan sosialisasi peneguhan sekaligus memfahamkan ruh syariat.

Pilihan-pilihan ‘Ijtihad’ Muhammadiyah khususnya yang berkaitan denga ruh syari’at harus difahamkan kepada masyarakat. Di sisi lain warga Muhammadiyah sendiri perlu senantiasa didampingi dan diingatkan agar senantiasa menjaga semangat tholabul ilmi, jangan sampai masyarakat melakukan amalan hanya karena “Bendera Muhammadiyah” tanpa berupaya menelusuri dasar-dasar ijtihad tersebut. Karena ketika umat melakukan amalan yang tidak dilandasi atas suatu kefahaman ilmu, ini menjadi awal menuju gerbang kegelapan. Maka sangat diperlukan usaha untuk melakukan proses pendidikan. Inilah sesungguhnya yang dimaksud peneguhan ideologi Muhammadiyah. Proses memfahamkan merupakan proses pendidikan yang panjang. Bukan proses yang bersifat ‘mendadak’ tetapi sebuah proses yang bersifat ‘mendidik’.

Sudah saatnya Muhammadiyah menggelorakan kembali semangat thafaquh fiddiin, menggembirakan tholabul ‘ilmi. Ilmu agama merupakan cahaya penerang kegelapan, dan pedang pembabat kebodohon. Sebab kebodohan bagaikan lingkaran setan yang akan menyelimuti ummat ketika mereka tidak punya lagi semangat ‘iqra. Untuk itu sebagai generasi ‘iqra sudah saatnya kita bertugas memotong mata rantai kebodohan, jangan sampai kesalahan-kesalahan yang pernah dialami terulang kembali. Jangan lagi mencari kambing hitam yang tidak sepenuhnya bersalah. Kini saatnya Muhammadiyah bermuhasabah menemukan kesalahan-kesalahan untuk tidak diulangi kembali. Sekaligus meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk diperjuangkan bersama. Begitu indah kala Muhammadiyah bangun dari tidur panjang. Berani menggembirakan kembali semangat inovasi ‘tajdid’ dan besiap-siap fal yughoyyir dengan selalu mengedepankan fastabiqul khoirot !! Wallahu’alam bishowab

oleh: Barid Setiawan
*Pimred Alfajr Tahun I

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melebarkan Sayap

Bagi para pembaca yang ingin berpartisipasi dalam penerbitan Buletin Al-Fajr ini baik berupa iklan, donasi, artikel, saran dan kritik dapat menghubungi alamat redaksi.
Akhirul kalam, Selamat membaca !!!
(Atau E-mail ke: alfajr@telkom.net / mrperie@yahoo.com)