Media Komunikasi Informasi dan Dakwah --- Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Minggir -- Fastabiqul Khairat .

Label

Senin, 11 Oktober 2010

KUTIPAN 2

“Allah memberi kemudahan kepada siapapaun yang dikehendaki, sebaliknya Allah juga menyesakkan dada orang yang tidak diberi petunjuk.”
- Ust. Joni Sudarsono -
Pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu, 15 Oktober 2009

“Rohani akan tercukupi dengan beriman, metaati perintah Allah dan melakukan kebajika-kebajikan, maka hidup ini akan terasa lebih indah.”
- Ust. Sukaryanto -
Pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu, 28 Oktober 2009

“Allah akan menjawab keinginan kita, lebih cepat dari yang kita duga.”
- Ust. Wahyudi, S. Ag. -
Pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu, 11 November 2009 (edisi spesial)

MENITI JALAN MENUJU TAKWA

Allah pun Telah Menjanjikan Kemenangan

Dalam salah satu firmanNya Allah dengan tegas telah berjanji, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raf [7]: 96)
Lalu mungkin kita bertanya, mengapa umat Islam dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim justru menjadi negara-negara yang tertinggal? Apakah ada yang salah dengan janji Allah tesebut?



Dalam kalamNya yang abadi, Allah juga berjanji, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Ath Thalaaq [65]: 2)

Dengan demikian semestinya umat Islam menjadi umat terbaik (khairu ummah). Mampu mengatasi rintangan dan cobaan yang dihadapi karena Allah telah menjamin adanya jalan keluar dari setiap kesulitan, memberi petunjuk dalam setiap kegelapan, menghadirkan ketenangan dalam setiap kegalauan.

Apakah Allah ingkar janji? Jawabnya jelas: Tidak! Karena Allah adalah Dzat yang selalu menepati janji. Jika sampai saat ini umat Islam masih terbelakang dan tertinggal dengan umat lain, boleh jadi kita sejatinya belum layak mendapat predikat takwa. Kita belum memenuhi persyaratan sebagai kaum yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah. Maka cara terbaik untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan perbaikan diri, keluarga, masyarakat dan umat, sehingga kita layak medapatkan pertolonganNya. Semakin jauh kita dari Allah, berarti pula kita menjauhkan diri dari pertolongan Allah.

Janji Allah dalam Al Quran tersebut juga tidak dimaksudkan untuk membuat umat Islam terbuai, lalu hanya berpangku tangan menunggu keadaan itu terjadi. Sebaliknya janji Allah tersebut harus menjadi pemacu bagi setiap Muslim untuk berbenah, berusaha mewujudkannya dengan suatu keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan akan semakin mendekatkan terwujudnya apa yang telah Allah janjikan itu.

Jamaludin Al Afghani menyebut kelemahan umat Islam bukan terletak pada ajarannya. Tapi umatnya yang tidak mau belajar, statis, fatalis dan salah dalam memahami takdir yang membuat mereka tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Jamaludin berpendapat bahwa takdir (qadha dan qadhar) mengandung maksud sesuatu terjadi menurut sebabnya. Bukan terjadi dengan sendirinya. Dengan demikian manusia semestinya bersungguh-sungguh mengupayakn sebabnya.

Jika Kalian Bertakwa!
Berbagai keutamaan dan kebaikan akan diperoleh orang-orang yang menjadikan takwa sebagai hiasan diri. Mengiringi setiap lintasan bathin, mewarnai setiap tutur kata, dan mewujud dalam setiap tingkah laku.

Pertama, orang yang bertakwa akan dicintai oleh Allah, “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Ali 'Imran [3]: 76)

Kedua, ditunjukkan jalan keluar dari persoalan dan diberi rizki dari arah yang tak diduga. Allah berfirman, artinya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath Thalaaq [65]: 2-3)

Ketiga, tidak akan mudah terpedaya oleh tipu muslihat musuh, seperti disebutkan dalam Al Quran, “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali 'Imran [3]: 120)

Keempat, akan memperoleh petunjuk dan diampuni kesalahannya. “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al Anfaal [8]: 29)

Dalam Al Quran terjemahan Depag, furqaan dimaknai sebagai petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, dapat juga diartikan sebagai pertolongan.
Kelima, mendapatkan rahmat Allah. “Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Hadiid [57]: 28)

Keenam, memperoleh pahala dari sisi Allah, “Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 103)
Ketujuh, berhak mewarisi surga dengan segala kenikmatannya, “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (Maryam [19]: 63)
Dan tentu masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang telah disediakan Allah bagi orang-orang yang bertakwa.

Berupaya Menjadi Insan Bertakwa
Ada sebuah dialog menggetarkan. Ketika Allah bertanya kepada manusia. Kepada kita semua.
“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?’” (Yunus [10]: 31)

Dalam firmanNya yang lain, Allah juga bertanya, “Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapakah pemilik langit yang tujuh, pemilik ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Maka katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?” (Al Mu’minun [23]: 84-87)

Menjadi insan yang bertakwa adalah keharusan setiap Muslim. Meskipun untuk mewujudkan tidaklah semudah mengucapkannya. Perlu proses dan usaha secara konsisten. Takwa adalah sebuah pilihan di antara pilihan lainnya. Orang yang tidak memilih ketakwan berarti ia mendekati kefasikan. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy Syams [91]: 8-10)

Takwa menjadi pembeda derajat kedekatan seorang hamba dengan Rabbnya. Semakin tinggi derajat ketakwaannya berarti semakin tinggi pula kedudukannya dalam pandangan Allah. Seperti juga keimanan, ketakwaan tidak bisa diwariskan, tidak bisa diperjualbelikan pun dipaksakan. Tetapi ia muncul dari usaha seorang hamba, buah dari ibadah-ibadah yang dipersembahkan hanya untuk Allah. Karena sesungguhnya ujung dari ibadah itu adalah agar seorang hamba menjadi insan yang bertakwa.

Seorang mukmin diwajibkan berpuasa agar bertakwa. Seorang muslim yang melaksanakan qurban maka yang diterima adalah takwanya. Begitupun ibadah lainnya bermuara pada takwa. Amal saleh tanpa dibarengi ketakwaan bisa jadi tiada berguna.
"Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa." (Al A'raaf [7]: 171)

Dalam salah satu sabdanya Rasulullah menasehatkan, “Bertakwalah kepada Allah karena itu adalah kumpulan segala kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah karena itu adalah kerahiban kaum muslimin, dan berdzikirlah kepada Allah serta membaca kitabNya, karena itu adalah cahaya bagimu di dunia dan ketinggian sebutan bagimu di langit. Kuncilah lidah kecuali untuk segala hal yang baik. Dengan demikian kamu dapat mengalahkan setan.” (HR. Thabrani)
Kemudian, marilah kita berupaya terus meniti jalan menuju takwa. Sebab setiap helaan napas sejatinya adalah pertanda bahwa kita kian dekat dengan alam kubur. Bergantinya hari sesungguhnya menjadi peringatan bahwa jatah umur kita di dunia semakin berkurang. Maka alangkah beruntungnya orang yang mampu mengakhiri episode kehidupannya, dengan menjadi insan bertakwa.
Wallahu a’lam bi shawwab.
[3ko]

KUTIPAN 1

“Janganlah kita sekedar ‘cangkem soleh’, hanya pandai berbicara baik tetapi tidak disertai amal shaleh.” – Ust. Nur Widodo –
pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu (27 Mei 2009)


“Jangan jadi Islam abangan, pahami Islam dengan baik Bung!”

– Ust. Jamil Rifanto –

pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu (10 Juni 2009)

“Banyak orang lebih mudah menilai orang lain dari pada menilai dirinya sendiri.”
– Ust. Sunu Tri Widodo –

pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu (24 Juni 2009)

Sabtu, 09 Oktober 2010

KOKAM DAN PCPM MINGGIR ADAKAN LONGMARCH

KOKAM bersama PCPM Kecamatan Minggir, Sleman belum lama ini mengadakan longmarch ke Goa Kiskendo, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini digelar sebagai pemanasan secara fisik bagi para anggota KOKAM yang akan diterjunkan berpartisipasi dalam menyukseskan Muktamar satu abad Muhammadiyah. Kegiatan diikuti sekitar 25 anggota KOKAM dengan menempuh jarak sekitar 32 km menyusuri pegunungan menoreh. Rombongan berangkat dari kantor Redaksi Buletin Al Fajr (buletin PCPM Minggir), Nanggulan Sendangagung Minggir, dilepas oleh sekretaris PCM Minggir, Wawan Sutrisno, S. Ag.

Sementara di tempat tujuan, kegiatan diisi dengan taushiyah oleh Ust. Wahyudi, S. Ag. S.IP. anggota senior KOKAM Daerah Sleman. Dalam kesempatan itu disampaikan tentang betapa beratnya peristiwa hijrah yang pernah dilakukan Rasulullah, berjalan ratusan kilometer melintasi gurun dan bukit berbatu. Jauh lebih berat daripada longmarch tersebut. Sehingga kader-kader KOKAM diharapkan tidak mudah menyerah dan harus betul-betul menjaga kebugaran fisik. Menurut rencana KOKAM Kecamatan Minggir siap mengirimkan sekitar 15 anggotanya dalam kegiatan muktamar mendatang dan telah didaftarkan ke PWPM DIY.

Menata Gerak Dakwah di Kecamatan Minggir

Sejarah Dakwah Muhammadiyah

Sejarah dakwah di Kecamatan Minggir diwarnai dengan berbagai gejolak yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar. Pada tahun 1970-an sempat terjadi konversi agama secara besar-besaran seiring gencarnya program kristenisasi. Pada saat itu Minggir mengalami paceklik berkepanjangan sehingga sebagian besar penduduk yang mengandalkan hasil pertanian otomatis mengalami kekurangan pangan. Situasi semacam ini menjadi peluang bagi orang-orang non-muslim untuk menarik simpati dengan jalan membagikan uang, makanan dan pakaian.

Bantuan tersebut berasal dari Belanda yang didatangkan atas prakarsa Romo Tack. Langkah yang disusun secara rapi dan sistematis itu pun terus berlanjut. Orang-orang yang telah murtad kemudian dikumpulkan sebulan sekali untuk melakukan misa bersama. Bantuan semacam itu secara rutin diberikan dan bagi mereka yang berhasil memurtadkan orang Islam akan diberi tambahan.

Komposisi jumlah umat beragama mengalami perubahan mencolok. Sebelum adanya permurtadan diperkirakan jumlah umat Islam mencapai 95%, jumlah itu kemudian merosot menjadi sekitar 67%. Hal tersebut menimbulkan kesadaran sebagian umat Islam, termasuk Muhammadiyah untuk lebih serius menata gerakan dakwah di Minggir. (lihat di situs perpustakaan digital UIN Sunan Kalijaga)

Menurut data dari KUA Kecamatan Minggir per Januari 2007, dari 35.136 penduduk komposisi umat beragama di Minggir yakni, Islam sebanyak 26.082, Katholik 8.689, Kristen 769, Buda 4, dan Hindu 2. Sedangkan jumlah tempat ibadah yakni, Masjid 85, Musala 45, Langgar 14, Gereja 5, Kapel 1. Jumlah tersebut dapat dipastikan telah mengalami perubahan

Gerak Muhammadiyah di Kecamatan Minggir telah tumbuh menjadi ormas yang sangat berperan dalam dakwah Islam. Muhammadiyah telah memiliki lima ranting yang tersebar di setiap kalurahan. Lengkap dengan kepengurusan ortom (organisasi otonomnya) yakni, ‘Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiah.

Secara organisatoris Muhammadiyah Cabang Minggir resmi diakui pada tahun 1963 yakni dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 1686/A tertanggal 23 Dzulhijjah 1382 H atau bertepatan dengan 17 Mei 1963. Sejak saat itu Muhammadiyah tersu bergerak, utamanya dalam menjaga ketahanan aqidah umat Islam dari rongrongan paham komunis yang disebarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kondisi semacam itu ditanggapi secara serius oleh Muhammadiyah dan menjalin kerjasama dengan Masyumi.

Saat ini Muhammadiyah Cabang Minggir memiliki amal usaha berupa sekolah-sekolah dari TK hingga SMA/SMK dengan rincian: 10 TK ABA, 8 SD, 2 SMP dan 1 SMA/SMK. Serta satu amal usaha baru berupa Kolam Renang ‘Tirta Edukasia’.

Dari segi jumlah keanggotaan secara pasti tidak ada data yang bisa menjadi rujukan. Bila melihat jumlah pencari nomor baku Muhammadiyah (NBM) sampai tahun 2006 tercatat sebanyak 1.305 orang. Tetapi hal itu tidak bisa menjadi patokan karena banyak di antara mereka mencri NBM semata untuk persyaratan mencari kerja. Sebaliknya banyak dari aktivis Muhammadiyah yang enggan mencari NBM. Jumlahnya mungkin mencapai ribuan. Itu semua menjadi modal luar biasa untuk menggerakkan dakwah di Minggir.

Saatnya Menata Gerak Dakwah

Sudah saatnya gerak dakwah di Minggir lebih ditata lagi agar bisa mencapai hasil maksimal. Banyak faktor yang selama ini nampaknya banyak dilupakan oleh para aktivis dakwah sehingga gerakan dakwah yang ada, meskipun banyak dan intens tetapi pencapainnya kurang efektif. Saat ini berbagai lembaga/organisasi dakwah terus berupaya bergerak melakukan dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar. Sebut saja misalnya, Muhammadiyah (‘Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiah), Nahdhatul ‘Ulama (Muslimat, Anshar, Fatayat), P2A, Badko TPA, Badan Kesejahteraan Masjid (BKM), Forum Kajian Sabilul Muhtadin (FKSM), Remaja Masjid, dan organisasi dakwah lainnya.

Realitas yang ada menunjukkan mereka cenderung bergerak sendiri-sendiri dan terpisah. Sehingga terkadang menimbulkan beberapa problem yang semestinya bisa diminimalisir. Seperti, penumpukan program kerja, pelaksanaan kegiatan yang bersamaan (tidak terkoordinasi), sampai dengan penggarapan obyek dakwah yang sama. Padahal jika ada pembagian tugas dan tanggung jawab, tentu hasilnya akan lebih baik dan bisa menghemat energi serta pendanaan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membuat gerak di Minggir lebih tertata:

Pertama, membuat peta dakwah. Tidak adanya peta dakwah yang jelas dan kurang pahamnya aktivis dakwah dengan medan perjuangan yang dihadapi tentu menimbulkan hambatan. Ibarat orang berjalan mereka tidak mengetahui seperti apa jalan yang akan dilalui. Sehingga sulit menentukan arah gerakan, skala prioritas, dan mempersiapkan ‘perbekalan’.

Perlu diketahui, menurut data 2006, Kecamatan Minggir memiliki luas 27.270 Ha, terbagi menjadi 5 kalurahan dan 68 dusun. Dengan jumlah tempat ibadah, Sendangagung (20 Masjid, 10 Musala, 2 Langgar, dan 3 Gereja), Sendangarum (11 Masjid dan 1 Kapel), Sendangmulyo (19 Masjid, 10 Musala, 9 Langgar, dan 1 Gereja), Sendangrejo (19 Masjid dan 17 Musala), dan Sendangsari (16 Masjid, 9 Musala, 3 Langgar dan 1 Gereja). (dok. 2007)

Kedua, Menentukan tujuan dakwah yang jelas. Menentukan tujuan sangat penting agar dakwah yang dilakukan tidak sekedar ‘wathon mlaku’ tanpa adanya target yang ingin dicapai. Padahal gerak dakwah amatlah luas dan rasanya sulit jika semuanya harus dicapai dalam sekali tempo. Perlu dibuat tujuan yang jelas agar memudahkan dalam membuat tahapan dakwah dan evaluasi untuk mengukur proses dakwah yang dilakukan berhasil atau belum.

Ketiga, Mencari sumber dana yang kontinyu. Salah satu pilar penopang kegiatan dakwah adalah tersedianya dana yang cukup. Untuk itu perlu digagas adanya sumber dana yang dapat diandalkan secara rutin guna membiayai kegiatan dakwah. Potensi yang ada sebetulnya cukup luar biasa. Dengan jumlah umat Islam lebih dari 26 ribu, misal saja setiap orang diharuskan membayar infak Rp 1000, setiap bulan maka dana yang terkumpul akan mencapai 26 juta!

Dalam hal ini Badan ‘Amil Zakat (BAZ) tingkat kecamatan yang telah lama terbentuk semestinya bisa berperan aktif berusaha mengupayakan agar umat Islam memiliki kesadaran untuk berzakat, infak dan shadaqah demi mendukung gerakan dakwah di Kecamatan Minggir.

“Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya. dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat), dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran, Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.” (Ash Shaafaat [37] : 1-4)

Sebagai penutup, marilah kita berupaya mengefektifkan gerak dakwah di Kecamatan Minggir. Gerak dakwah yang bukan sekedar gerak. Namun gerak yang tertata. Karena seperti nasihat khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, kemunkaran yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang tidak tertata.

Wallahu a’lam bi shawwab

Melebarkan Sayap

Bagi para pembaca yang ingin berpartisipasi dalam penerbitan Buletin Al-Fajr ini baik berupa iklan, donasi, artikel, saran dan kritik dapat menghubungi alamat redaksi.
Akhirul kalam, Selamat membaca !!!
(Atau E-mail ke: alfajr@telkom.net / mrperie@yahoo.com)