Label
Selasa, 27 Maret 2012
DAKWAH MUHAMMADIYAH
Senin, 11 Oktober 2010
MENITI JALAN MENUJU TAKWA
Dalam salah satu firmanNya Allah dengan tegas telah berjanji, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raf [7]: 96)
Lalu mungkin kita bertanya, mengapa umat Islam dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim justru menjadi negara-negara yang tertinggal? Apakah ada yang salah dengan janji Allah tesebut?

Dalam kalamNya yang abadi, Allah juga berjanji, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Ath Thalaaq [65]: 2)
Dengan demikian semestinya umat Islam menjadi umat terbaik (khairu ummah). Mampu mengatasi rintangan dan cobaan yang dihadapi karena Allah telah menjamin adanya jalan keluar dari setiap kesulitan, memberi petunjuk dalam setiap kegelapan, menghadirkan ketenangan dalam setiap kegalauan.
Apakah Allah ingkar janji? Jawabnya jelas: Tidak! Karena Allah adalah Dzat yang selalu menepati janji. Jika sampai saat ini umat Islam masih terbelakang dan tertinggal dengan umat lain, boleh jadi kita sejatinya belum layak mendapat predikat takwa. Kita belum memenuhi persyaratan sebagai kaum yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah. Maka cara terbaik untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan perbaikan diri, keluarga, masyarakat dan umat, sehingga kita layak medapatkan pertolonganNya. Semakin jauh kita dari Allah, berarti pula kita menjauhkan diri dari pertolongan Allah.
Janji Allah dalam Al Quran tersebut juga tidak dimaksudkan untuk membuat umat Islam terbuai, lalu hanya berpangku tangan menunggu keadaan itu terjadi. Sebaliknya janji Allah tersebut harus menjadi pemacu bagi setiap Muslim untuk berbenah, berusaha mewujudkannya dengan suatu keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan akan semakin mendekatkan terwujudnya apa yang telah Allah janjikan itu.
Jamaludin Al Afghani menyebut kelemahan umat Islam bukan terletak pada ajarannya. Tapi umatnya yang tidak mau belajar, statis, fatalis dan salah dalam memahami takdir yang membuat mereka tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Jamaludin berpendapat bahwa takdir (qadha dan qadhar) mengandung maksud sesuatu terjadi menurut sebabnya. Bukan terjadi dengan sendirinya. Dengan demikian manusia semestinya bersungguh-sungguh mengupayakn sebabnya.
Jika Kalian Bertakwa!
Berbagai keutamaan dan kebaikan akan diperoleh orang-orang yang menjadikan takwa sebagai hiasan diri. Mengiringi setiap lintasan bathin, mewarnai setiap tutur kata, dan mewujud dalam setiap tingkah laku.
Pertama, orang yang bertakwa akan dicintai oleh Allah, “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Ali 'Imran [3]: 76)
Kedua, ditunjukkan jalan keluar dari persoalan dan diberi rizki dari arah yang tak diduga. Allah berfirman, artinya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath Thalaaq [65]: 2-3)
Ketiga, tidak akan mudah terpedaya oleh tipu muslihat musuh, seperti disebutkan dalam Al Quran, “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali 'Imran [3]: 120)
Keempat, akan memperoleh petunjuk dan diampuni kesalahannya. “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al Anfaal [8]: 29)
Dalam Al Quran terjemahan Depag, furqaan dimaknai sebagai petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, dapat juga diartikan sebagai pertolongan.
Kelima, mendapatkan rahmat Allah. “Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Hadiid [57]: 28)
Keenam, memperoleh pahala dari sisi Allah, “Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 103)
Ketujuh, berhak mewarisi surga dengan segala kenikmatannya, “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (Maryam [19]: 63)
Dan tentu masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang telah disediakan Allah bagi orang-orang yang bertakwa.
Berupaya Menjadi Insan Bertakwa
Ada sebuah dialog menggetarkan. Ketika Allah bertanya kepada manusia. Kepada kita semua.
“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?’” (Yunus [10]: 31)
Dalam firmanNya yang lain, Allah juga bertanya, “Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapakah pemilik langit yang tujuh, pemilik ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Maka katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?” (Al Mu’minun [23]: 84-87)
Menjadi insan yang bertakwa adalah keharusan setiap Muslim. Meskipun untuk mewujudkan tidaklah semudah mengucapkannya. Perlu proses dan usaha secara konsisten. Takwa adalah sebuah pilihan di antara pilihan lainnya. Orang yang tidak memilih ketakwan berarti ia mendekati kefasikan. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy Syams [91]: 8-10)
Takwa menjadi pembeda derajat kedekatan seorang hamba dengan Rabbnya. Semakin tinggi derajat ketakwaannya berarti semakin tinggi pula kedudukannya dalam pandangan Allah. Seperti juga keimanan, ketakwaan tidak bisa diwariskan, tidak bisa diperjualbelikan pun dipaksakan. Tetapi ia muncul dari usaha seorang hamba, buah dari ibadah-ibadah yang dipersembahkan hanya untuk Allah. Karena sesungguhnya ujung dari ibadah itu adalah agar seorang hamba menjadi insan yang bertakwa.
Seorang mukmin diwajibkan berpuasa agar bertakwa. Seorang muslim yang melaksanakan qurban maka yang diterima adalah takwanya. Begitupun ibadah lainnya bermuara pada takwa. Amal saleh tanpa dibarengi ketakwaan bisa jadi tiada berguna.
"Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa." (Al A'raaf [7]: 171)
Dalam salah satu sabdanya Rasulullah menasehatkan, “Bertakwalah kepada Allah karena itu adalah kumpulan segala kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah karena itu adalah kerahiban kaum muslimin, dan berdzikirlah kepada Allah serta membaca kitabNya, karena itu adalah cahaya bagimu di dunia dan ketinggian sebutan bagimu di langit. Kuncilah lidah kecuali untuk segala hal yang baik. Dengan demikian kamu dapat mengalahkan setan.” (HR. Thabrani)
Kemudian, marilah kita berupaya terus meniti jalan menuju takwa. Sebab setiap helaan napas sejatinya adalah pertanda bahwa kita kian dekat dengan alam kubur. Bergantinya hari sesungguhnya menjadi peringatan bahwa jatah umur kita di dunia semakin berkurang. Maka alangkah beruntungnya orang yang mampu mengakhiri episode kehidupannya, dengan menjadi insan bertakwa.
Wallahu a’lam bi shawwab.
[3ko]
Minggu, 25 Januari 2009
BERBAGAI KEBAIKAN DIHAMPARKAN
Sesungguhnya hanya dengan keimanan dan ilmu pengetahuan umat ini akan ditinggikan derajatnya oleh Allah. Ilmu yang dipelajari atas dasar iman dan diejawantahkan dalam produktifitas amal shaleh dalam kehidupan. Jelas sekali, karena dalam Islam yang dikehendaki bukanlah sebatas konsep, melainkan sampai tataran aplikatif.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)
Terlepas dari itu, Islam telah mempersiapkan berbagai limpahan pahala dan kebaikan bagi para penuntut ilmu.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah membentangkan baginya satu jalan dari jalan-jalan surga. Dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu agama). Dan sesungguhnya seorang alim itu, dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi dan oleh ikan-ikan yang ada di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan orang alim (berilmu) atas seorang ahli ibadah seperti Keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka telah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil-nya, berarti dia telah mengambil bagian yang banyak”. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya. Dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin)
Dalam sabda yang lain dikatakan, “Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.” (HR. Muslim)
Rasulullah juga bersabda, “Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka ia fisabilillah sampai ia pulang.” (HR. Tirmidzi)
Maka semestinya seorang Muslim senantiasa memiliki semangat untuk mencari ilmu, tidak sebatas di bangku sekolah tetapi di manapun dan kapanpun. Bahkan meski sampai negeri China, ‘Tholabul ‘ilmi wa lau bissin,’ kata Rasul.
Khlaifah Ali bin Abi Thalib pernah memberi nasehat kepada seorang tabiin, “Wahai Kumail bin Ziyad! Sesungguhnya hati itu adalah wadah, maka sebaik-baik wadah adalah yang paling banyak memuat kebaikan. Ingatlah apa yang akan aku katakan kepadamu: Manusia itu ada tiga macam: Seorang ‘alim rabbani (seorang yang berilmu, mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya), seorang pelajar yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang-orang hina, para pengikut setiap yang berteriak. Mereka mengikuti (arus) setiap angin, mereka tidak mendapatkan cahaya ilmu dan tidak berpegangan dengan tiang yang kokoh.” (Min Washaya As–Salaf, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali).
Nah, sekarang silakan pilih ingin termasuk kategori yang mana. Wallahua’lam bi shawwab [ibnu hamdani dari berbagai sumber]
Tentang Ilmu
Kedhaliman yang berkaitan dengan Ilmu
1. Mengajarkan Tanpa Dasar yang Kuat (asal)
Waspadailah berbagai kemudahan dalam memahami ilmu agama tanpa disandarkan pada sumber hukum yang kuat. Salah satu strategi Zionis adalah dengan menjauhkan Muslim dari sumber-sumber asli. Seolah mereka telah cukup menelaah buku-buku dengan kutipan kesekian kalinya. Sehingga tidak perlu lagi mempelajari kitab-kitab (kitab induk) yang ditulis ulama terdahulu.
Orang lebih senang mendengarkan lantunan Al Quran dari MP3, Tape recorder, atau VCD, tetapi enggan membaca. Waspadalah itu salah satu strategi Zionis menjauhkan umat Islam dari Al Quran.
2. Mencari Ilmu dengan Niat yang Keliru
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam mengingatkan kita dengan sabdanya: "Barangsiapa mempelajari ilmu untuk bermegah-megahan di antara ulama' atau untuk membantah orang-orang bodoh, atau untuk mengambil simpati orang banyak kepadanya, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka".(HR. Turmudzi).
3. Ilmu hanya untuk golongan tertentu
Sekarang marak berbagai pelatihan, seminar dan workshop ilmu agama yang diadakan di hotel-hotel atau tempat mewah lainnya dengan biaya jutaan rupiah, tanpa diimbangi dengan menggelar acara untuk umum, sehingga mereka yang tidak mampu mengikutinya tidak mengetahui ilmu itu.
Hadits-Hadits
"Jadilah kamu seorang pengajar, atau pelajar, atau mendengarkan (ilmu), atau mencintai (ilmu), dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima, kamu pasti menjadi orang yang celaka." (H.R. Imam Baihaki)
Maksud dari orang kelima di sini adalah janganlah menjadi orang yang bodoh, yang akan celaka di dunia dan akhirat kelak, sehingga dapat terjerumuskan kepada hal-hal keburukan.
“Kelebihan seorang yang alim daripada orang yang rajin ibadah, bagaikan kelebihanku terhadap orang yang terendah di antaramu.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah)
“Sesungguhnya Nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham hanya mereka mewariskan ilmu agama, maka siapa yang telah mendapatkannya berarti telah mengambil bagian yang besar.” (HR. Abu Dawud-Tirmidzi dari Abu Darda’)
Muslim Itu…Tak Pernah Jemu Mencari ‘Ilmu
"Wahai manusia belajarlah, sesungguhnya ilmu itu hanya dengan belajar
dan fiqh (faham agama) itu hanya dengan bertafaqquh
(belajar ilmu agama/ilmu fiqh). Dan barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan difaqihkan (difahamkan) dalam agama ini."
(HR. Ibnu Abi Ashim, Thabrani, Al-Bazzar dan Abu Nu'aim, hadits hasan).
Bermula dari Iqra’
“Iqra’”…“Iqra’”…, Kita tentunya sangat berharap getar suara Jibril sewaktu menemui Rasulullah di Gua Hira itu tak pernah sirna. Terus meresapi setiap jiwa kaum muslimin dan muslimat untuk senantiasa membaca kalam Allah yang termaktub dalam Alquran, maupun yang terhampar di alam semesta ini. Kita sangat berharap lantunan perintah ‘Iqra’” itu menjadi amunisi yang selalu siap untuk membangkitkan semangat berlipat-lipat kepada seluruh umat manusia terlebih kaum muslim untuk tiada henti belajar dan belajar demi kemanfaatan dunia dan akhiratnya.
Ya, kalimat iqra’ itu semoga tetap menggema sepanjang masa. Karena dengan ilmu, hidup ini menjadi mudah, mudah untuk dihadapi, mudah untuk dijalani.
Karena ilmu dunia bisa didapat, akhirat akan selamat. Persis seperti kata penuh hikmah dari Imam Syafi’i rahimahullah, sesiapa yang ingin meraih bahagia dunia mestilah dengan ilmu, sesiapa yang menginginkan kedamaian akhirat, mestilah dengan ilmu. Sesiapa yang ingin dua-duanya mestilah dengan ilmu.
“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu,
barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu,
dan barangsiapa yang menginginkan keduanya maka hendaklah dengan ilmu.”
(Al-Majmu’, Imam An-Nawawi).
Menguak Kekuatan Shadaqah
Selain itu, dakwah Islam selain memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas juga membutuhkan pendanaan yang memadai sehingga kegiatan dakwah dapat terlaksana dengan mencapai hasil yang maksimal. Generasi awal umat ini telah menjadi bukti tak terbantahkan tentang kekuatan shadaqah yang turut mendukung terwujudnya masa Islam yang gemilang. Simaklah bagaimana para sahabat Rasulullah saling berlomba dalam bershadaqah, Abu Bakar membawa semua hartanya sewaktu hijrah demi perjuangan Islam, Abdurrahman bin ‘Auf pernah menginfakkan separuh hartanya, lalu menambahinya dengan empat puluh ribu dinar, lalu ditambahi dengan lima rastu ekor kuda dan lima ratus ekor onta. Sementara Ustman bin Affan menyumbang seribu dinar untuk persiapan perang meskipun sedang masa paceklik. Menyambut apa yang dilakukan Utsman ini Rasulullah bersabda, “Utsman tidak akan melarat karena apa yang dikerjakannya setelah ini,” beliau mengulanginya beberapa kali.
Ya, sesungguhnya zakat, infak, shadaqah maupun wakaf bukanlah pengeluaran (cost), tetapi itu semua adalah investasi akhirat yang tiada pernah akan mengalami kerugian, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Faathir [35]: 29)
Rasulullah menjelaskan bahwa harta yang kita miliki hanyalah apa yang kita makan sampai habis, kita kenakan sampai lusuh dan kita belanjakan di jalan Allah. Selain yang demikian itu sebenarnya bukan miliki kita, karena bisa jadi ia diambil lagi oleh Allah tanpa sempat kita memanfaatkannya atau ia berpindah kepada orang lain. Maka bila kita ingin harta kita abadi dan dapat memberikan keuntungan terus-menerus jangan ragu lagi, shadaqahkanlah di jalan Allah.
Besarnya Pahala Shadaqah
“Shadaqahkan sebagian harta Anda, kepada orang lain niscaya Anda akan dilapangkan dari kesempitan, dimudahkan dari kesulitan, dihindarkan dari kedukaan. Dan, Anda akan memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat.” Tidak masuk akal! Mungkin itu ucapan yang pertama kali terlontar dari mulut kita. Kita butuh uang, mengapa justru kita memberikan uang kepada orang lain, yang tidak memberikan keuntungan apa-apa pada diri kita? Memang, yang lebih logis kalau kita menginvestasikan harta kita untuk membeli saham, mendeposito di bank yang memungkinkan harta kita akan bertambah.
Untuk tahu jawabnya, mari kita cermati matematika shadaqah yang di uraikan Ust. Yusuf Mansur. Menurut logika 10-1 = 9, tetapi tidak untuk shadaqah. 10-1 = 19. Ya, karena satu shadaqah yang kita belanjakan di jalan Allah akan dilipatgandakan minimal menjadi 10 kali lipat, sedangkan harta yang tidak kita infakkan, akan tetap nilainya.
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al An'aam [6]: 160)
Besarnya pahala itu menjadi hak Allah untuk menentukannya. Bahkan adakalanya dilipatgandakan sampai 700 kali. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 261)
Imam Muslim mentakhrij dari Abu Mas’ud ra. ia berkata, “Ada seorang laki-laki datang sambil membawa seekor onta yang diberangus, seraya berkata, “Onta ini aku shadaqahkan untuk jalan Allah.”
Beliau bersabda, “Pada hari kiamat engkau akan mendapatkan tujuh ratus onta yang serupa dengannya, yang semuanya dalam keadaan diberangus.”
Selain itu, shadaqah juga mendatangkan banyak kemanfaatan, antara lain, menghapuskan dosa, mempererat silaturahmi dan kasih sayang, mendatangkan ridha Allah sehingga memudahkan kita untuk mendapat pertolongan-Nya.
Hakikat Harta
Seringkali kita menganggap semua yang ada dalam kekuasaan kita merupakan harta yang kita miliki. Padahal apa saja yang belum kita pakai sebetulnya bukan harta kita. Uang yang kita simpan di bank belum tentu menjadi milik kita, bisa jadi bank kena likuidasi, atau rekening kita dibobol orang. Begitu juga rumah, perhiasan, semuanya bisa lenyap dalam sekejapan mata. Harta kita adalah apa yang kita makan, kita pakai. Dan kita shadaqahkan, maka dia akan kekal dan akan memberi manfaat terus-menerus untuk kita.
Sebagaimana sabda Rasulullah, “Ketahuilah bahwa harta milik sendiri yaitu harta (uang) yang sudah diamalkan dan dipakai keperluannya, sedangkan harta warisan yaitu harta yang belum dipakai (masih disimpan).” (HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud)
Suatu ketika para sahabat menyembelih kambing, lalu Nabi bersabda, ‘Apa yang tersisa darinya?’ ‘Aisyah menjawab, ‘Tiada yang tersisa, kecuali sampil mukanya.’ Sabdanya pula, ‘Berarti semuanya tetap ada, kecuali sampil muka yang tidak tetap.” (HR. Tirmidzi)
Maksudnya apapun yang dishadaqahkan akan tetap ada di akhirat kelak, atau Allah menggantinya di dunia dengan penggantian yang lain, yang terkadang tidak kita sadari. Sebaliknya sampil yang tidak dishadaqahkan akan habis setelah dimakan dan tidak mendatangkan pahala.
Pahala dari shadaqah itu akan terus bertambah, menggunung tinggi. “Barangsiapa shadaqah sebesar biji kurma dari hasil kerja halal, dan Allah tidak menerima, kecuali dari kerja yang halal, maka Allah akan menerima shadaqah itu dengan tangan kananNya, lalu menjaganya baik-baik, seperti orang menjaga anak kuda hingga sebesar bukit.” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah)
Jelaslah bahwa seorang yang dengan ikhlas bershadaqah tidak akan pernah rugi. Sebaliknya Allah akan mengganti harta yang dishadaqahkan itu dengan yang lebih baik.
Pengelolaan ZIS dan Wakaf, dari Konsumtif ke Produktif
Sebetulnya kekuatan umat Islam sangat menakjubkan, meskpiun konon secara ekonomi berada di bawah umat lain, tetapi bila kita mencermati kekuatan kolektif yang dapat dipersatukan maka akan kita temui hal yang mengagumkan. Misal, saat ini umat Islam di Kecamatan Minggir jumlahnya lebih dari 26.000 jiwa, jika dalam satu bulan saja mereka dapat menyisihkan uang sebanyak Rp 1000, maka akan dapat dikumpulkan dana sebanyak Rp. 26 juta per bulan. Sebuah jumlah yang luar biasa dan barangkali tidak pernah kita perhitungkan.
Dana tersebut sudah lebih dari cukup untuk mendirikan sebuah badan usaha guna mencukupi kebutuhan umat Islam sehingga mampu kuat secara ekonomi, mendirikan kios-kios untuk disewakan atau usaha produktif lainnya. Selebihnya dapat digunakan menggaji seorang ulama yang memang bersedia mencurahkan hidupnya dalam gerak dakwah di Kecamatan Minggir sehingga akan lebih fokus dan tertata dengan rapi dan sistematis.
Selama ini ZIS dan Wakaf masih untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif dan kebanyakan lebih ditujukan guna pembangunan fisik. Padahal pembagunan dalam segi ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan, pendidikan dan semacamnya jauh lebih memberikan efek yang positif sekaligus sebagai investasi terbentuknya generasi yang mau dan mampu menjadi motor dakwah di Kecamatan Minggir. Maka sangat diperlukan adanya Lembaga ZISWAF yang melingkupi wilayah satu kecamatan, karena akan lebih adil dalam distribusi, kuat pengelolaannya dan dapat meningkatkan ukhuwah Islamiyah.
Kita dapat belajar dari pengelolaan ZISWAF (Zakat Infak Shadaqah Wakaf) pada masa khalifah ‘Umar, saat Islam mencapai kemakmuran yang mengagumkan. Pada masa itu pengelolaan dana di Baitul Maal dioptimalkan untuk kepentingan umat, sehingga dana yang ada tidak hanya tersimpan. Bahkan tanah-tanah wakaf juga digunakan untuk usaha produktif.
Islam sangat menganjurkan produktifitas dari segala kepemilikan yang dimiliki oleh seorang Muslim. Termasuk produktifitas dari tanah juga perlu diperhatikan. Kaum Muslimin diperintahkan untuk mengelola semaksimal mungkin tanah-tanah yang mereka miliki, termasuk tanah yang belum ada pemiliknya.
Seorang sahabat Nabi, Bilal bin Harits, pernah mendatangi Nabi untuk meminta sebidang tanah yang luas. Nabi memberinya sebagai iqtha’ (yakni pemberian tanah untuk dikelola agar lebih produktif serta mendatangkan keuntungan bagi negara). Namun semasa Khalifah ‘Umar tanah tersebut diminta kembali karena Bilal dianggap gagal mengelolanya. Khalifah ‘Umar menetapkan tiga tahun untuk membuka tanah, jika seseorang tidak mengelolanya maka orang lain berhak menanaminya.
Bukan hanya itu saja, tetapi Khalifah ‘Umar juga memerintahkan kepada para Gubernurnya untuk meningkatkan produktifitas atas tanah yang dapat dikelola, beliau menulis surat kepada salah seorang gubernurnya;
“Perhatikanlah tanah Negara di propinsimu dan bagikanlah tanah itu dengan syarat pembagian setengah dari hasil panen atau kurang, dengan mengurangi bagian Negara hingga sepersepuluh. Namun, jika tanah tersebut terlalu tandus sehingga tak seorang pun mau menanaminya meskipun hanya dengan pembagian sepersepuluh, maka berikanlah tanah itu tanpa syarat. Sekirannya masih tak ada seorang pun yang menanaminya, maka biayailah penanamannya dari Baitul Maal sehingga tidak ada tanah yang ada dalam kendalimu sia-sia.”
Penekanan yang begitu besar terhadap tanah pertanian dapat dipahami karena pada masa itu sektor pertanian menjadi salah satu tumpuan utama masyarakat Islam. Pada konteks sekarang harus dipahami bahwa seorang Muslim harus mengoptimalkan atau mendayagunakan semua kepemilikannya agar setidaknya bernilai ekonomis demi kepentingan bersama.
“Siapa yang memiliki tanah hendaklah ditanaminya. Jika dia tidak sanggup menanaminya sendiri maka hendaklah disuruhnya saudaranya menanami.” (Mukhtasar Sahih Muslim)
Kisah di atas adalah potret perlunya pemberdayaan ZISWAF agar lebih produktif dan dapat mendatangkan manfaat sebesar-besarnya kepada umat Islam.
Jangan Menunda untuk Bershadaqah
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali 'Imran [3]: 180)
Menunda bershadaqah sama artinya dengan mengahalangi keuntungan yang lebih banyak dari harta kita. Sesungguhnya kita tidak tahu apakah besok atau lusa masih mempunyai harta, karenanya Rasulullah pernah mengingatkan, ‘Gunakanlah masa kayamu sebelum datang masa miskinmu.” Yang lebih tragis jika penundaan bershadaqah itu didahului oleh ajal yang bisa datang setiap saat. Hingga keinginan itu hanya akan menjadi penyesalan di akhirat kelak. Allah mengisahkan penyesalan mereka itu dalam catatan yang abadi, “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (Al Munaafiquun [63]: 10)
Itulah penyesalan yang sudah tiada berguna. Suatu pertaubatan yang terlambat. Tidak cukupkah semua itu menjadi peringatan bagi kita? Wallahu’alam bi shawwab. [eko]
Beberapa Hal yang Perlu diperhatikan dalam bershadaqah!
1. Memberikan sesuatu yang terbaik yang kita miliki. Bukan sesuatu yang sudah tidak kita senangi apalagi yang sudah tidak kita butuhkan.
2. Lebih utama memulainya dari kerabat atau keluarga dekat, karena akan mengokohkan hubungan keluarga.
3. Shadaqah tidak harus berupa uang, tetapi apa saja yang dapat memberi manfaat kepada orang lain ataupun dalam perjuangan Islam.
4. Semata mencari keridhaan Allah, bukan untuk mengharap simpati orang lain, mencari popularitas dan semacamnya karena semua itu justru menjauhkan kita dari manfaat shadaqah sesungguhnya.
Hijrah, Momen Menuju Pencerahan
Sejumlah lelaki dan Perempuan
Berkumpul di sebuah perbukitan
Walaupun jauh dalam perjalanan
Untuk keimanan yang dinyatakan
Setelah berita yang tak terbantahkan
Datangnya Nabi Rasul akhir jaman
-- Hijrah, karya Bilal Basyir--
Bukan semarak kembang api, lengkingan terompet, meriahnya pesta atau gemuruh dendang yang pantas diperbuat seorang Muslim tiap kali menyambut hadirnya tahun baru. Tapi, kesadaran tentang usia yang kian berkurang. Kemauan untuk mengevaluasi diri. Atau dalam istilah Umar bin Khattab ra., hasibu anfusakum qobla an tuhasabu, hisablah dirimu sebelum engkau dihisab pada hari akhir. Dan, menata hidup ke depan dengan setumpuk rencana perbaikan diri. Tentu setelah itu harus meruah kepada keluarga, umat, dan masyarakat. Karena sejak semula Islam diperuntukkan bagi kesejahteraan seluruh alam. Bukan hanya menjadi milik mereka yang rajin memperbaiki diri dengan meninggalkan realitas di sekitarnya.
Hijrah adalah Sebuah Pemisah
Dari peristiwa hijrah Rasulullah meninggalkan Mekkah ke Madinah kita bisa mengambil banyak pelajaran. Bagaimana visi beliau dalam membuat sebuah rencana besar demi keberhasilan dakwah yang diinginkan. Berpikir jauh ke depan, melewati batas-batas yang diperkirakan kafir Quraisy. Lebih dari itu, peristiwa hijrah ibarat jaring pemisah. Memisahkan mereka yang mencintai keimanan, dengan yang lebih mencintai harta kekayaan duniawi. Memisahkan mereka yang mengaku: kami telah beriman! sebatas di bibir. Dengan mereka yang penuh kesungguhan mempertahankannya. Hijrah juga memisahkan mereka bertujuan hidup untuk masa sekarang (dunia), dengan mereka yang menggantungkan kebahagiaan di masa mendatang (akhirat). Ya, hijrah sesungguhnya menjadi pemisah, tidak semata karena batas wilayah tapi perjuangan demi menjaga akidah.
Menghargai Waktu yang Sangat Berarti
Setiap pergantian tahun sadar atau tidak, kita telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yakni kesempatan untuk beramal. Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata, “Tahun ibarat pohon, bulan-bulan laksana cabang-cabangnya, hari-hari sebagai rantingnya, jam-jam sebagai daun-daunnya dan nafas-nafas kita buahnya. Barangsiapa yang nafas-nafasnya selalu dalam ketaatan, maka orang itu telah menanam pohon yang baik.”
Sementara Ibnu Mas’ud berkata, “Kalian berada dalam perputaran siang dan malam, dalam rangkaian masa hidup yang kian berkurang dan di tengah beragam amal yang tidak luput dari catatan, sementara maut datang mengagetkan. Barangsiapa yang menanam kebajikan, ia nyaris akan mengetam buahnya, dan siapa saja yang menanam kejahatan, ia nyaris memetik penyesalan, dan setiap orang yang menanam, ia akan memeroleh sesuai apa yang ditanamnya. Orang yang lamban menanam kebajikan, ia tidak akan segera menikamati hasilnya, dan si rakus tidak akan mendapatkan keberuntungan yang memang tidak disediakan baginya.”
Begitulah, waktu yang kita miliki adalah sebuah bejana kosong. Kita yang harus mengisinya dengan amal-amal yang kita kerjakan. Siapa mengisi dengan kebaikan niscaya ia akan menikmatinya. Sebaliknya siapa mengisi dengan keburukkan, maka semua itu akan berpulang kembali kepadanya. “Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).” (53. An Najm [53]: 31)
Tak Ada Pencerahan Tanpa Kesungguhan
Bilakah pertolongan Allah itu akan datang? Tanya itu kerap mencuat dalam benak kita. Melihat keadaan kaum Muslimin yang belum juga mampu keluar dari berbagai persoalan yang terus mendera: kemiskinan, kebodohan dan penindasan. Belum lagi hantaman arus globalisasi yang merapuhkan sendi-sendi aqidah dan akhlak. Sementara waktu terus berjalan. Hari berganti. Tahun pun berlalu. Sedangkan janji Allah telah pasti. Inna nashrullahi qa riib, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
Benar. Pertolongan Allah itu dekat. Seperti juga Allah, yang memang lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Tetapi pertolongan itu hanya diperuntukan bagi mereka yang telah memenuhi syarat. Mereka memiliki keimanan yang akarnya menghunjam ke dalam hati, batangnya menjulang tinggi, dan buahnya memberi manfaat bagi sekitarnya. Mereka yang dengan sungguh-sungguh menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya. Seperti golongan ini, “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (Ali ‘Imran [3]: 123)
Mereka lemah ketika itu, jumlahnya tidak sebanding dengan pasukan musuh. Perbekalan mereka sangat terbatas. Tapi soal semangat dan keimanan, mereka tak perlu diragukan. Jika para kafir Quraisy begitu takut dengan maut, pasukan itu justru senang menjemput kematian. Mereka berlomba, berlari menjemput syahid! Semua itu karena mereka memiliki keyakinan yang diwujudkan melalui kesungguhan dalam berjuang menegakkan Islam.
Kita ini, yang hidup berpuluh abad sesudahnya juga memiliki tugas yang sama: menegakkan Islam. Melalui kerja-kerja yang kita lakukan, melalui dakwah yang terus disebarkan. Maka semestinyalah semua itu digerakkan oleh keyakinan yang kuat dan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Mengoptimalkan seluruh potensi yang ada demi tercapainya tujuan dakwah. “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al Anfaal [8]: 60)
Selain itu, dakwah juga memerlukan suatu perencanaan dan penataan. Kita butuh orang-orang yang bukan sekedar pintar dan ‘alim tapi juga butuh orang yang mau ditata. Karena kebenaran yang rapuh dapat dihancurkan oleh kebatilan yang terorganisir secara rapi. Ukhuwah islamiyah dan imaniyah menjadi kata kunci yang tidak bisa dibantah. Banyaknya umat belum menjamin kemudahan dalam meraih kemenangan. Selama umat Islam masih seperti buih yang mudah diombang-ambingkan ombak. Alquran telah mengisyaratkan ini, “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." Al Baqarah [2]: 249
Untuk itulah, seiring tahun yang terus berganti, diperlukan keseriusan dalam menata barisan ini. Barisan dakwah yang menggelorakan semangat amar ma’ruf nahi munkar. Barisan yang telah mengikatkan diri pada satu tali yang kukuh, yakni tauhid. La ila ha illallah muhamma dar rasulullah. Wallahu ‘alam bi shawwab. [eko]
Rabu, 21 Januari 2009
Perjuangan Pemuda Muslim Sebagai Pemuda Masjid
Pemuda muslim ialah generasi penerus perjuangan islam yang memiliki kewajiban untuk melindungi agama islam dan mendakwahkannya ke semua masyarakat. Pemuda muslim adalah suatu generasi yang seharusnya nemiliki jiwa pejuang dan patriotisme yang berkobar-kobar untuk memperjuangkan islam. Di tangan para pemuda muslimlah masa depan islam ditentukan.
Pikiran dan usulan yang kritis biasanya berasal dari para pemuda. Tak jarang bila kita tengok sejarah islam, banyak para pemuda yang memimpin orang-orang yang lebih senior dari mereka, seperti Zubair bin Awam, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit dan Sebagainya. Selain itu, para rasul dan nabi pun diangkat oleh Allah SWT dari kaum pemuda terpilih. Mereka dipilih oleh Allah karena pemuda lebih tangguh dalam fisik maupun cara berfikir. Pemuda telah dipercaya oleh Allah untuk memperjuangkan agama islam sejak zaman dahulu. Kita sebagai pemuda muslim harus terus menyambung dan meneruskan perjuangan para muslim sebelum kita dengan mencontoh rasa dan jiwa pejuang para rasul dan nabi maupun sahabat-sahabat Rasulullah yang merupakan contoh konkret dalam memperjuangkan islam pada masanya.
Pemuda muslim dapat ikut serta dalam perjuangan islam dengan menjadikan hatinya terkait dengan masjid. Masjid merupakan bagian penting untuk membentuk pemuda islam . Shalat bukan semata-mata untuk memperbanyak kebaikan, tetapi Allah SWT memperbanyak kebaikan dari shalat berjamaah supaya mendorongmu untuk ke masjid. Jadi Allah SWT telah memerintahkan kita untuk selalu pergi dan meramaikan masjid untuk shalat berjamaah. Dari shalat berjamaah di masjid itu kita akan dapat memperoleh banyak kebaikan yang dapat kita nikmati di dunia maupun di akhirat. Seperti Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Huraiarah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Siapa yang pergi ke masjid atau pulang dari masjid, maka Allah akan menyediakan tenpat baginya di surga setiap ia pergi atau pulang dari masjid tesebut”.
Masjid adalah tempat untuk menjaga hubungan baik seseorang dengan masyarakatnya. Sebelumnya, kita sebagai kader penerus perjuangan islam harus bias menyempatkan diri untuk selalu pergi ke masjid. Setiap kita pergi ke masjid, kita bisa bertemu dengan pemuda-pemuda muslim yang lain yang bersama-sama bejuang dalam mendakwahkan islam. Semakin lama kita akan semakin dekat dengan pemuda-pemuda muslim lain tersebut, sehingga kita bias bertukar pikiran dengan mereka.
Dengan semakin dekatnya maupun bersatunya kaum pemuda muslim, islam akan selalu terlindungi dan terjaga. Dengan semakin dekatnya para pemuda muslim, kita bisa bersama-sama melakukan kegiatan bermanfaat di sekitar masjid tersebut. Masjid tentunya sangat berperan penting dalam memebentuk pemuda sebagai kader penerus islam, karena masjid akan selalu mempersatukan umat muslim untuk selalu memperjuangkan islam sebagaimana menjadi kewajiban pemuda muslim.
Tentunya dalam hal ini, kita sebagai pemuda dapat memanfaatkan masjid dengan sebaik mungkin. Kita dapat mempertemukan semua kalangan masyarat di masjid untuk bersama-sama berjuang di jalan Allah. Kita bisa mengembangkan islam melalui dakwah di masjid tersebut. Apabila para pemuda muslim selalu berkumpul dan bersatu, maka islam akan semakin kuat dan tangguh. Masjid dapat dijadikan tempat bertemunya para pemuda muslim. Para pemuda muslim dapat memanfaatkan masjid dengan membuat forum maupun pengajian yang akan dapat mempersatukan semua kaum muslim seperti majlis ilmu, majlis tahfidz Al-Quran dan kultum seusai shalat lima waktu. Maka dari itulah kita bisa merubah diri kita menjadi pribadi muslim yang shalih. Dengan forum dan pengajian tersebut, para pemuda muslim akan bisa mendakwahkan agama islam dengan lebih mudah.
Kita semua umat muslim memang dianjurkan oleh Allah SWT untuk memakmurkan masjid, Orang yang hatinya merasa terikat dengan masjid, dia akan bisa menjaga tingkat keimanan dan ketakwaan secara tetap. Karena itulah Allah SWT berfirman, yang artinya:
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. At-Taubah 18)
Orang yang senantiasa melakukan shalat di masjid dan memakmurkan masjid, dia adalah orang yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, kemudian dia menolong saudaranya berdasarkan keimanan itu. Bila ia merasa sedikit frustasi, maka akan ada orang lain yang akan mengingatkan dan mendukungnya. Lebih dari itu, konsentrasi dan kekhusyukan seorang muslim ketika shalat di dalam masjid lebih tinggi dari pada ketika ia shalat di rumah. Oleh karena itu, pahalanya lebih banyak. Apalagi jika dikerjakan dengan berjamaah, tentu manfaat tersebut tak terhitung jumlahnya.
Seorang pemuda muslim haruslah bisa memakmurkan masjid sebagaimana firman Allah SWT tadi yang menyuruh kita untuk memakmurkan masjid. Apabila masjid terisi oleh banyak pemuda, islam akan terus berdiri tegak. Bangsa non-muslim akan takut kepada orang muslim apabila para pemudanya dapat meramaikan masjid, karena itu adalah tanda bersatunya dan kekompakan pemuda muslim.
Masjid adalah tempat yang paling pas untuk memperbaiki kehidupan pemuda muslim saat ini. Zaman sekarang telah memasuki zaman modern dan globalisasai. Banyak pengaruh buruk yang akan membawa para pemuda terpuruk ke jurang kemaksiatan. Zaman seperti saat ini hanya akan memecah belahkan kekompakan umat muslim. Untuk menghindari it semua, sebaiknya para pemuda muslim rajin-rajinlah untuk selalu meramaikan masjid. Apabila kita selalu pergi ke masjid, insya allah pergaulan kita akan terjaga dan kita akan terhindar dari hal-hal yang negatif yang dapat merusak citra umat muslim.
Dengan menjaga diri untuk tetap ke masjid, kita sama saja sudah menyelamatkan islam dari kehancuran. Kita juga sudah berjuang di jalan islam untuk menjaga tali persaudaraan antar umat islam untuk menegakkan islam agar tidak goyah dan roboh.
Oleh: Andika Ilham Rahmatullah *( Buletin Al-Fajr / Edisi 10 / Tahun II / Februari '08 / Rabiul Awwal 1430 H )
Minggu, 04 Januari 2009
BELAJAR DARI HIJRAH ROSUL
Setiap kita memasuki Bulan Hijriyah, umat Islam diingatkan pada peristiwa pindahnya Rasulullah SAW dan para sahabat beliau dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa itu bermula dari beberapa pemimpin suku Quraisy berembug untuk membinasakan Rasul bersama-sama dengan mengirim seorang pemuda dari masing-masing kafilah yang ada. Rencana jahat ini kemudian disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasul sekaligus mengabarkan bahwa Allah memerintahkan untuk pindah (hijrah) ke Yasrib (Madinah). Dan malam harinya, beliau berangkat bersama sahabat karibnya Abu Bakar Ash Shidiq.
Hijrahnya Rasul dari Mekah ke Madinah hanyalah merupakan perpindahan tempat atau makaniyah, dimana hampir setiap orang bisa melakukannya. Hakekat yang paling penting dari peristiwa itu adalah “Israrun ala al-haq”, yakni senantiasa berpijak di atas kebenaran, memperjuangkan dan mempertahankannya. Hikmah dari peristiwa itu adalah adanya upaya untuk mentransformasikan tingkat kehidupan yang lebih bermutu, baik spiritual maupun materialnya. Selain itu mengadung nilaii pendidikan bagi manusia bahwa kehidupannya mengenal ruang dan waktu (space and time) dari satu masa terdahulu ke masa kini dan masa berikutnya.
Bilamana seorang muslim mampu mengambil ibroh atau pelajaran dari peristiwa Hijrah itu, maka Allah memberikan sanjungan yang sangat tinggi kepada orang yang melaksanakan hijrah sesuai dengan firman Nya:
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. (QS. At Taubah: 20)
Allah memberikan sanjungan yang tinggi karena dalam melakukan hijrah membutuhkan pengorbanan, baik jiwa maupun raga. Oleh karena itu, tidak boleh hilang dalam kehidupan seseorang semangat berjuang mengatasi berbagai kesulitan hidup. Untuk itulah, dalam mencapai keberhasilan harus didasari optimisme dan perjuangan
Berikut gambaran tipe manusia dalam berjuang yang disertai optimisme;
1. Tipe Quiters, artinya orang ini ibarat seorang pendaki, sudah gamang melihat
2. Tipe Campers, yang senangnya melakukan kemah. Ibarat mendaki, sudah sampai ditengah perjalanan, lupa akan hakekat-tujuan yang hendak dicapai. Terlalu asyik-enjoy beristirahat, akhirnya mengurungkan niat dan kembali turun, karena merasa tidak mampu lagi.
3. Tipe Climbing, artinya seorang pendaki sejati. Setinggi gunung
Artinya: “Sesungguhnya dibalik kesukaran itu ada kemudahan” (Al Insyiroh :6 )
Keyakinan pada Allah dan optimis inilah yang tidak semua orang memiliki, ataupun kalau memiliki kadarnya tentu berbeda satu dengan lainnya. Tangan Allah akan menggapai, memberi pertolongan kepada siapapun yang berusaha dengan penuh optimisme akan berhasil dalam usahanya itu. Apabila belum sekarang tentu tidak boleh kendor, bisa saja hanya tertunda. Tetapi yang jelas, ingat kepada Allah dan keyakinan akan datangnya pertolongan Allah akan meredakan kegelisahan dan menggantinya dengan ketenangan, sehingga mampu memperhitungkan segala sesuatu dengan cermat, sehingga hasilnya lebih maksimal.
Ibroh peristiwa Hijrah Rosul yang lain, pertama ditekankan agar ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) perlu terus menerus ditingkatkan. Keharusan ini didasari bahwa kegagalan dan timbulnya konflik sosial, politik dalam tubuh umat Islam saat ini, baik skala internasional, nasional, regional maupun lokal, disebabkan lemahnya daya rekat rasa persaudaraan antar sesamanya. Kedua, Ukhuwah diartikan sebagai persudaraan Islam yang secara umum berlaku baik bagi setiap muslim maupun non muslim. Pengertian disini adalah antar lintas agama (ukhuwah Insaniyah), bukan ukhuwah imaniyah (persaudaraan seiman). Karena kita sadar, setiap agama punya sekat keimanan yang tidak mungkin disatukan. Hal ini memberikan gambaran untuk membina kebersamaan dengan sesama warga Negara dan umat manusia secara universal. Keadaan ini dibuktikan oleh rasulullah dalam merajut tali persaudaraan menjalin perjanjian dengan orang Yahudi Madinah.
Dalam perjanjian itu disepakati bahwa setiap penduduk Madinah diakui dan ditetapkan kemerdekaannya untuk memeluk dan mengamalkan agama masing-masing. Selain itu disepakati juga adanya kebersamaan dalam menjaga stabilitas Madinah dari berbagai kendala. Ini menggambarkan bahwa hal yang menyangkut kepentingan umum (urusan dunia) umat Islam tidak dilarang duduk berdampingan orang lain.
Tentu banyak makna yang lain bisa kita dapatkan dari peristiwa Hijrah Rasul, diantaranya:
1. Berhijrah dari perbuatan buruk ke perbuatan baik
2. Hijrah dari perbuatan haram ke perbuatan halal
3. Hijrah dari perilaku nista kepada perilaku terpuji
4. Hijrah dari keterbelakangan menuju kemajuan
5. Hijrah dari kemiskinan menuju kecukupan
6. Hijrah dari kebodohan menuju kecerdasan
7. Hijrah dari pertentangan menuju kerukunan, dsb.
Dengan demikian, tidak sekedar secara maknawinya saja kita peringati Persistiwa Hijrah Rasul, hakekat, intisari itu juga penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah penerapan nilai-nilai intrinsik baik moral ataupun spirit dari peristiwa hijrah itu di dalam keseharian kita. Amin.
Disarikan dari berbagai sumber.
oleh: Imam Triyono*
*) Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Minggir Tahun 2008.
( Buletin Al-Fajr Edisi 9 / Tahun II / Januari '09 / Muharram 1430H )
Melebarkan Sayap
Akhirul kalam, Selamat membaca !!!
(Atau E-mail ke: alfajr@telkom.net / mrperie@yahoo.com)


