Media Komunikasi Informasi dan Dakwah --- Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Minggir -- Fastabiqul Khairat .

Label

Tampilkan postingan dengan label ulasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulasan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Oktober 2010

Menata Gerak Dakwah di Kecamatan Minggir

Sejarah Dakwah Muhammadiyah

Sejarah dakwah di Kecamatan Minggir diwarnai dengan berbagai gejolak yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar. Pada tahun 1970-an sempat terjadi konversi agama secara besar-besaran seiring gencarnya program kristenisasi. Pada saat itu Minggir mengalami paceklik berkepanjangan sehingga sebagian besar penduduk yang mengandalkan hasil pertanian otomatis mengalami kekurangan pangan. Situasi semacam ini menjadi peluang bagi orang-orang non-muslim untuk menarik simpati dengan jalan membagikan uang, makanan dan pakaian.

Bantuan tersebut berasal dari Belanda yang didatangkan atas prakarsa Romo Tack. Langkah yang disusun secara rapi dan sistematis itu pun terus berlanjut. Orang-orang yang telah murtad kemudian dikumpulkan sebulan sekali untuk melakukan misa bersama. Bantuan semacam itu secara rutin diberikan dan bagi mereka yang berhasil memurtadkan orang Islam akan diberi tambahan.

Komposisi jumlah umat beragama mengalami perubahan mencolok. Sebelum adanya permurtadan diperkirakan jumlah umat Islam mencapai 95%, jumlah itu kemudian merosot menjadi sekitar 67%. Hal tersebut menimbulkan kesadaran sebagian umat Islam, termasuk Muhammadiyah untuk lebih serius menata gerakan dakwah di Minggir. (lihat di situs perpustakaan digital UIN Sunan Kalijaga)

Menurut data dari KUA Kecamatan Minggir per Januari 2007, dari 35.136 penduduk komposisi umat beragama di Minggir yakni, Islam sebanyak 26.082, Katholik 8.689, Kristen 769, Buda 4, dan Hindu 2. Sedangkan jumlah tempat ibadah yakni, Masjid 85, Musala 45, Langgar 14, Gereja 5, Kapel 1. Jumlah tersebut dapat dipastikan telah mengalami perubahan

Gerak Muhammadiyah di Kecamatan Minggir telah tumbuh menjadi ormas yang sangat berperan dalam dakwah Islam. Muhammadiyah telah memiliki lima ranting yang tersebar di setiap kalurahan. Lengkap dengan kepengurusan ortom (organisasi otonomnya) yakni, ‘Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiah.

Secara organisatoris Muhammadiyah Cabang Minggir resmi diakui pada tahun 1963 yakni dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 1686/A tertanggal 23 Dzulhijjah 1382 H atau bertepatan dengan 17 Mei 1963. Sejak saat itu Muhammadiyah tersu bergerak, utamanya dalam menjaga ketahanan aqidah umat Islam dari rongrongan paham komunis yang disebarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kondisi semacam itu ditanggapi secara serius oleh Muhammadiyah dan menjalin kerjasama dengan Masyumi.

Saat ini Muhammadiyah Cabang Minggir memiliki amal usaha berupa sekolah-sekolah dari TK hingga SMA/SMK dengan rincian: 10 TK ABA, 8 SD, 2 SMP dan 1 SMA/SMK. Serta satu amal usaha baru berupa Kolam Renang ‘Tirta Edukasia’.

Dari segi jumlah keanggotaan secara pasti tidak ada data yang bisa menjadi rujukan. Bila melihat jumlah pencari nomor baku Muhammadiyah (NBM) sampai tahun 2006 tercatat sebanyak 1.305 orang. Tetapi hal itu tidak bisa menjadi patokan karena banyak di antara mereka mencri NBM semata untuk persyaratan mencari kerja. Sebaliknya banyak dari aktivis Muhammadiyah yang enggan mencari NBM. Jumlahnya mungkin mencapai ribuan. Itu semua menjadi modal luar biasa untuk menggerakkan dakwah di Minggir.

Saatnya Menata Gerak Dakwah

Sudah saatnya gerak dakwah di Minggir lebih ditata lagi agar bisa mencapai hasil maksimal. Banyak faktor yang selama ini nampaknya banyak dilupakan oleh para aktivis dakwah sehingga gerakan dakwah yang ada, meskipun banyak dan intens tetapi pencapainnya kurang efektif. Saat ini berbagai lembaga/organisasi dakwah terus berupaya bergerak melakukan dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar. Sebut saja misalnya, Muhammadiyah (‘Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiah), Nahdhatul ‘Ulama (Muslimat, Anshar, Fatayat), P2A, Badko TPA, Badan Kesejahteraan Masjid (BKM), Forum Kajian Sabilul Muhtadin (FKSM), Remaja Masjid, dan organisasi dakwah lainnya.

Realitas yang ada menunjukkan mereka cenderung bergerak sendiri-sendiri dan terpisah. Sehingga terkadang menimbulkan beberapa problem yang semestinya bisa diminimalisir. Seperti, penumpukan program kerja, pelaksanaan kegiatan yang bersamaan (tidak terkoordinasi), sampai dengan penggarapan obyek dakwah yang sama. Padahal jika ada pembagian tugas dan tanggung jawab, tentu hasilnya akan lebih baik dan bisa menghemat energi serta pendanaan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membuat gerak di Minggir lebih tertata:

Pertama, membuat peta dakwah. Tidak adanya peta dakwah yang jelas dan kurang pahamnya aktivis dakwah dengan medan perjuangan yang dihadapi tentu menimbulkan hambatan. Ibarat orang berjalan mereka tidak mengetahui seperti apa jalan yang akan dilalui. Sehingga sulit menentukan arah gerakan, skala prioritas, dan mempersiapkan ‘perbekalan’.

Perlu diketahui, menurut data 2006, Kecamatan Minggir memiliki luas 27.270 Ha, terbagi menjadi 5 kalurahan dan 68 dusun. Dengan jumlah tempat ibadah, Sendangagung (20 Masjid, 10 Musala, 2 Langgar, dan 3 Gereja), Sendangarum (11 Masjid dan 1 Kapel), Sendangmulyo (19 Masjid, 10 Musala, 9 Langgar, dan 1 Gereja), Sendangrejo (19 Masjid dan 17 Musala), dan Sendangsari (16 Masjid, 9 Musala, 3 Langgar dan 1 Gereja). (dok. 2007)

Kedua, Menentukan tujuan dakwah yang jelas. Menentukan tujuan sangat penting agar dakwah yang dilakukan tidak sekedar ‘wathon mlaku’ tanpa adanya target yang ingin dicapai. Padahal gerak dakwah amatlah luas dan rasanya sulit jika semuanya harus dicapai dalam sekali tempo. Perlu dibuat tujuan yang jelas agar memudahkan dalam membuat tahapan dakwah dan evaluasi untuk mengukur proses dakwah yang dilakukan berhasil atau belum.

Ketiga, Mencari sumber dana yang kontinyu. Salah satu pilar penopang kegiatan dakwah adalah tersedianya dana yang cukup. Untuk itu perlu digagas adanya sumber dana yang dapat diandalkan secara rutin guna membiayai kegiatan dakwah. Potensi yang ada sebetulnya cukup luar biasa. Dengan jumlah umat Islam lebih dari 26 ribu, misal saja setiap orang diharuskan membayar infak Rp 1000, setiap bulan maka dana yang terkumpul akan mencapai 26 juta!

Dalam hal ini Badan ‘Amil Zakat (BAZ) tingkat kecamatan yang telah lama terbentuk semestinya bisa berperan aktif berusaha mengupayakan agar umat Islam memiliki kesadaran untuk berzakat, infak dan shadaqah demi mendukung gerakan dakwah di Kecamatan Minggir.

“Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya. dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat), dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran, Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.” (Ash Shaafaat [37] : 1-4)

Sebagai penutup, marilah kita berupaya mengefektifkan gerak dakwah di Kecamatan Minggir. Gerak dakwah yang bukan sekedar gerak. Namun gerak yang tertata. Karena seperti nasihat khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, kemunkaran yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang tidak tertata.

Wallahu a’lam bi shawwab

Rabu, 25 Februari 2009

PCM Berhasil Kumpulkan Dana 19 Jutaan

Dalam rangka menyemarakkan Milad Muhammadiyah ke-99 sekaligus menyambut kedatangan para jamaah haji, PCM Minggir menggelar pengajian untuk keluarga besar Muhammadiyah Minggir. Acara berlangsung pada Sabtu (24/1/09) bertempat di SD Kalikotak. Taushiyah disampaikan oleh ustadz KH Abdullah Effendi. Dalam taujihnya beliau menyampaikan tentang jihad yang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Termasuk dengan mendayagunakan potensi demi kegiatan dakwah. Alhamdulillah dalam acara tersebut juga berhasil terkumpul dana sekitar 19 juta, sebagai upaya dalam membeli tanah wakaf untuk SD Muhammadiyah Kalikotak. [eko]

Meskipun masih belum mencukupi tetapi keluarga besar Muhammadiyah merasa sangat terharu dengan keikhlasan para anggotanya. Semoga amal bapak/ibu/sdr/i mendapat pahala yang setimpal dan terus mengalir dari Allah Swt. Bagi kaum Muslimin yang ingin berpartisipasi dapat menghubungi Sekretaris PCM: Sdr. Wawan Sutrisno di 081392035967.

FPM, Siap Kawal Muallaf

Forum Peduli Muallaf (FPM) yang telah beberapa waktu lalu dirintis akhirnya terbentuk. FPM merupakan realisasi dari rencana tindak lanjut kerjasama AMM Minggir, YAUMU dan Ar Rohmah. Pada Rabu (28/1/09) bertempat di rumah Sdr. Barid Setiawan Ngijon diadakan rapat pembentukan pengurus yang dihadiri segenap pihak antara lain Bapak Abdullah Efendi dari PBHA, Bapak Nurhadi, S.Ag dari PCM, Bapak Imam Triyono dari KUA Minggir, Ibu Nurul dari Ar Rohmah, Sdr Masykuri dari PCPM, Sdri Laila Sa’idah dari PCNA, perwakilan Muallaf Minggir-Moyudan serta segenap undangan.

Sebagai tindak lanjut, pada Selasa (10/2/09) bertempat di rumah Ibu Nurul Sembuhan, Sendangmulyo diadakan pertemuan lanjutan. Dalam rapat tersebut ditetapkan pemberian nama yakni Forum Kajian Sabilul Huda (yang akhirnya diubah menjadi Sabilul Muhtadin).

Adapun susunan pengurus Forum Kajian ‘Sabilul Muhtadin’ adalah sebagai berikut:

Penasehat : 1. Nur Hadi, S.Ag. (PCM Minggir)

2. Drs. H. Abdullah Effendi (PBHA)

3. Drs. W.R. Lasiman (Yaumu)

4. Ibu Nurul Hidayah (Ar Rohmah)

Ketua : H.M. Ridwan

Wakil Ketua : Barid Setiawan

Sekretaris I : Fathan Shodiq

II : Diaaudin Kurniawan

Bendahara I : Tutik Esti Utami

II : Titin Ristiani

Koordinator Desa

Sendangarum : Ashadi Harmanto/Farid Ma’ruf

Sendangrejo : Sutarto

Sendangsari : Masykuri/Hardiman

Sendangmulyo : Rahman/Darmawan

Sendangagung : Eko Triyanto

Sumberarum : Liesna Yuliawati/Ibu Riyanti

Ar Rohmah : Syafiah

Bidang Dakwah:

1. Nur Widodo

2. Imam Triyono (PAIF KUA Kec. Minggir)

3. Y. Sukarman

4. Alb. Sutimin

5. Didukung Penyuluh Agama Honorer Kecamatan Minggir

PCNA Sukses Gelar Sarasehan

Di tengah berbagai keterbatasan yang kini sedang dihadapi, pada hari Ahad (1 /2/2009) lalu PCNA Minggir sukses menggelar event bertajuk “Sarasehan Nasyiatul ‘Aisyiah Minggir”. Acara yang mengambil tema ‘Mencetak Generasi Cerdas dan Sholeh Sejak Dini’ tersebut bertempat di Gedung Kelompok Bermain Taman Fitria, Ngepringan, Sendangrejo. Hadir sebagai pembicara masing-masing Ibu Siti Yusi Rusimah, M.S. (Dosen UMY), yang mengupas penyiapan generasi cerdas dan sholeh dari sisi pendidikan. Sedangkan Ibu Wiwin Priyantari (Dosen STIKES ‘Aisyiah) memaparkan dari sisi kesehatan. Acara diikuti sekitar 70 peserta dari kader NA, Aisyiah dan Umum. [eko] Selamat untuk NA

Menanti Realisasi Hasil Raker Badko

Sekitar 50 ustadz/ustadzah TPA se-Kecamatan Minggir pada Senin (26/1/09) lalu mengikuti Raker (rapat kerja) yang digelar oleh Badko TPA Minggir. Acara bertempat di Rawa Jombor Klaten Jawa Tengah. Raker tersebut berhasil membahas berbagai rencana program kerja antara lain tentang intensifikasi dalam pencarian sumber dana untuk kegiatan TPA, pengadaan ustadz bantu bagi TPA yang masih kekurangan ustadz, pengaturan manajemen organisasi serta program lain yang telah dirinci dan disusun dalam rencana program Badko. Diharapkan ke depan Badko semakin giat dalam memajukan TPA-TPA yang ada di Minggir. [eko] Pak Joni and Friends ayo yang semangat!

Minggu, 25 Januari 2009

KREDIT TANPA BUNGA, TANPA AGUNAN DAN TANPA MACET

Kemiskinan adalah bencana. Karena itulah tidak ada seorangpun di dunia ini sengaja ingin menjadi miskin. Oleh sebab itu, manusia menggunakan berbagai macam cara agar terhindar darinya, salah satunya adalah dengan melaksanakan program kredit.

Program kredit atau pinjaman dapat mempunyai dua sisi. Salah satunya adalah sisi yang menguntungkan dan sisi lainnya merugikan. Sisi yang menguntungkan bila modal dari kredit diputarkan dan memperoleh hasil. Sisi yang merugikan bila modal diputarkan tetapi hasilnya malah merugi, kemudian kredit menjadi macet, agunan disita oleh pemberi kredit (kreditur) dan sisa hutang masih menumpuk belum terlunasi.

Pada rakyat kecil kreditur jarang bersedia memberikan pinjaman. Hal ini disebabkan rakyat kecil umumnya tidak memiliki agunan yang disyaratkan. Padahal kreditur tidak mau mengalami resiko kerugian bila kredit macet. Oleh sebab itulah perlu dikembangkan adanya program kredit khusus untuk rakyat kecil. Kredit ini haruslah bersifat tanpa bunga, tanpa agunan dan tentu saja tanpa macet.

Oleh : Susilowati, A.Md.

EKONOMI ISLAM, EKONOMI YANG BERKEADILAN


Sebelum membahas lebih jauh tentang ekonomi Islam, terlebih dahulu kita harus berangkat dari titik awal yang sama. Kita harus yakin bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna. Agama Islam bukanlah ‘agama’ seperti dalam perspektif sekuler barat, tetapi agama Islam adalah suatu ‘dien’, suatu sistem hidup yang menyeluruh yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia.

Agama Islam adalah suatu sistem hidup yang menyeluruh, yang mengatur dari masalah hal-hal kecil sampai hal-hal yang besar. Mulai dari maslah bersuci, beribadah, makan, berpakaian sampai masalah kenegaraan semuanya tidak luput dari tata aturan agama, demikian pula halnya dengan masalah ekonomi. Dalam perekonomian, Al Qur’an mengatur dengan jelas norma-norma yang harus dijalani oleh seorang pelaku ekonomi Islam. Selain itu Rosulullah SAW juga telah memberikan contoh teladan dalam hadits-haditsnya bagaimana berniaga, menjalankan roda perekonomian secara Islami.

Terdapat banyak penjelasan tentang perekonomian Islam, tetapi secara lebih sederhana perekonomian Islam dapatlah dikatakan sebagai perekonomian yang berkeadilan. Hal ini sebagai lawan dari sistem perekonomian diluar Islam yang terang-terang berwatak tidak adil. Didalam sejarah berulangkali terdapat contoh terjadinya friksi antar kelas akibat ketidakadilan tersebut. Antara kaum buruh melawan majikan, antara produsen dan konsumen, serta antara kreditur dan debitur, yang kesemuanya itu menunjukkan adanya suatu ketidak adilan didalam tata susunan kegiatan ekonomi.

Dengan sudut pandang yang lain, dapatlah dikatakan bahwa sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi ‘jalan tengah’ diantara dua sistem besar yang secara ekstrem berseberangan, yaitu sistem ekonomi kapitalisme di satu sisi dan sistem ekonomi sosialisme di sisi yang lain. Islam menawarkan suatu jalan tengah, yaitu tetap mengakui hak-hak milik pribadi individu tetapi juga mengakui adanya fungsi komunal bagi kesejahteraan bersama.

Masalah terbesar bagi pengembangan ekonomi Islam adalah kurangnya pemahaman dikalangan sebagian besar ummat Islam bahwa Islam adalah lembaga kehidupan yang komplit. Banyak kaum muslimin yang melaksanakan sistem ekonomi kapitalisme tanpa menyadari bahwa sistem tersebut tidaklah sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Selain itu banyak pula kaum muslimin yang merasa tidak cocok dengan kapitalisme, kemudian menoleh kepada sosialisme sebagai alternatif ekonomi, tanpa menyadari bahwa didalam praktek sosialisme ada beberapa sendi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Untuk itulah kita harus memberikan pemahaman yang lebih baik kepada ummat Islam agar mampu melihat Islam secara lebih komprehensif dan memahami ekonomi Islam sebagai suatu jalan hidup (way of life) dalam berkegiatan ekonomi.

Saat ini sub bagian perekonomian Islam yang mengalami perkembangan paling menyolok adalah sektor moneter. Yaitu dengan diterapkannya ‘sistem syariah’ kedalam tata ekonomi keuangan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bank-bank konvensional yang membuka konter syariah dalam produknya, bahkan hampir semua bank yang ada tentu mempunyai divisi ekonomi syariah. Dalam skala kecil, di daerah-daerah banyak bermunculan koperasi simpan pinjam yang menganut sistem syariah atau dengan istilah yang lebih dikenal BMT (Baitul Maal Wat Tamwil). Terlepas dari apa dan bagaimana penerapan sistem syariah pada lembaga-lembaga itu, kita harus mengacungkan jempol atas terobosan-terobosan yang yang telah dilakukan oleh para pelaku ekonomi tersebut.

Kata kunci dalam perekonomian syariah adalah adanya sistem ‘bagi hasil‘ atau ‘profit sharing’ sebagai sistem pengganti dari sistem ‘bunga bank’. Dalam pelaksanannya, sistem ekonomi ini memberikan perimbangan resiko bersama kepada pihak kreditur maupun debitur secara adil. Hal ini mengingat uang yang dipinjam dan diputarkan akan selalu berhadapan dengan resiko rugi maupun resiko laba dalam perputarannya. Bandingkan dengan sistem bunga yang selalu beranggapan bahwa dana yang dipinjam oleh nasabah selalu memberikan keuntungan.

Pelaksanaan sistem bagi hasil yang ideal menuntut prasyarat mutlak yaitu adanya nasabah peminjam yang amanah. Amanah secara umum berarti dapat dipercaya. Sehingga dengan adanya nasabah yang amanah penentuan bagi hasil untung maupun bagi hasil rugi dapat ditentukan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Tanpa adanya nasabah yang amanah ini sistem ekonomi syariah adalah utopia semata dan hanya akan berhenti pada wacana teori di seminar-seminar saja.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa nasabah yang pernah menjadi debitur pada lembaga keuangan konvensional dan lembaga dengan sistem syariah akan merasakan bahwa lembaga ekonomi syariah terlampau lunak sehingga ada kecenderungan untuk dapat disepelekan saja. Lain ceritanya bila pada lembaga konvensional yang terkesan tega, kaku dan cenderung kejam. Oleh sebab itulah adanya nasabah yang amanah adalah syarat mutlak terciptanya sistem ekonomi islami.

Dalam agenda besar ekonomi syariah, kita dapat mengambil peran sesuai dengan kapasitas kita yaitu dimulai dengan meyakini akan ke sempurnaan ajaran Islam (As Syamil Al Islaam) kemudian mempelajari teori dan praktek ekonomi Islam serta menjaga apapun amanah yang ada pada kita. Insya Allah dengan demikian langkah kita yang kecil ini akan memberikan sumbangan bagi kebangkitan perekonomian ummat Islam.

Oleh : Muhammad Sulthon.

TARBIYAH BERSAMA MUHAMMADIYAH

“.....siapkan barisan...

wahai putra putri....!!

...... TK ‘Aisyiyah Bustanul Atfal........

Penggalan syair lagu, yang diajarkan saat duduk di bangku kindergartend tersebut masih terngiang. Sekilas terkesan sederhana, namun kalaulah bisa dimaknai dapat dijadikan visi yang dapat memberikan sejuta motivasi untuk mempersiapkan generasi masa depan. Selama kurun waktu hampir satu abad, Muhammadiyah telah ikut berperan mencerdaskan kehidupan bangsa. Khusus di lingkup Kecamatan Minggir telah berdiri sekolah dari tingkat Play Group, Kindergartend, SD, SMP, SMU/SMK, TPA maupun Asrama.

Pertimbangan amal usaha Muhammadiyah yang diwujudkan dengan mendirikan lembaga pendidikan pada masa lalu didasarkan atas pertimbangan begitu besar kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan atau lembaga sekolah, komitmen Muhammadiyah untuk mendirikan sekolah yang bernafaskan keagamaan sehingga bisa memberikan bimbingan dalam men-tarbiyah masyarakat sekaligus media kaderisasi Muhammadiyah, mendirikan lembaga pendidikan menjadi salah satu wasilah da’wah dan kaderisasi.

Perjalanan waktu telah menorehkan tabiat dan mencetak karakter yang spesifik, berjuta problematika senantiasa menghiasi perjalanan, banyak masyarakat dengan sukarela telah mengikhlaskan sebagian tanah pekarangan untuk diwakafkan guna mendirikan lembaga pendidikan, berdasarkan data dari KUA Kecamatan Minggir tercatat 29 lokasi tanah wakaf yang diamanahkan untuk gedung sekolah Muhammadiyah, meskipun secara administrasi pengelola tanah wakaf (nadzir) adalah Nadzir perseorangan. Sesungguhnya Muhammadiyah memiliki aset sumber daya yang cukup, khususnya aset sumber daya manusia dan aset tanah wakaf. Saat acara Sarasehan trah Muhammadiyah Minggir yang diadakan bulan Januari yang lalu, ada beberapa permasalahan dalam tubuh internal Muhammadiyah khususnya bidang pendidikan, salah satu lontaran guru-guru TK ‘Aisyiyah Bustanul Atfal yang notabene anggota ‘Aisyiyah ibunda kita, mengungkapkan fakta munculnya sekolah-sekolah baru yang menjadi kompetitor, ada beberapa sekolah Muhammadiyah yang sudah tidak beroperasi lagi karena kekurangan murid, kebijakan pemerintah, contohnya mengenai penghapusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan ada beberapa faktor lainnya. Sehingga ada beberapa gedung sekolah Muhammadiyah yang sekarang kosong yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Di sisi lain sebagian besar nadzir yang dulu mengelola sekolah Muhammadiyah telah meninggal sehingga secara administrasi harus ada penggantian nadzir baru, pengganti nadzir dapat perseorangan maupun Badan Hukum (NU, Muhammadiyah, LDII, Yayasan dll red) proses ini dilakukan agar terdapat kejelasan pengelola tanah wakaf.

Karakter masa seringkali berubah, karakter masa saat ini adalah “Padang Kurusetra”, kompetisi, masa hitam-putih, tuntutan marketable. Menjamurnya lembaga pendidikan swasta yang bernaung di bawah yayasan/ormas pada saat ini sebuah keniscayaan zaman, merupakan hak dan sebagai perwujudan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa terlepas dari tujuan dan motivasi yang sesunggguhnya ingin dicapai. Sisi suram yang sangat menyedihkan adalah saat menjamurnya lembaga pendidikan dipandang sebagai dampak dari virus “industri pendidikan” lembaga pendidikan menjadi pabrik pendulang uang. Dampak positif yang terjadi secara alami di lapangan setiap lembaga pendidikan berusaha menawarkan dan menyiapkan diri sebagai lembaga pendidikan yang marketable. Lembaga-lembaga pendidikan yang bersama-sama memproklamirkan diri mewarisi risalah da’wah, alangkah indah, arif dan bijaksana bersama wata’awanungalal birri wattaqwa. Muhammadiyah masih memiliki aset yang cukup, baik SDM mapun aset tanah wakaf yang harus dijaga, ini merupakan modal yang potensial salah satunya untuk mengembangkan lembaga pendidikan, harus disadari Muhammadiyah mampu menawarkan lembaga pendidikan yang mencitrakan karakter yang Islami selama berani untuk fastabiqul khoirat, Sesungguhnya peradaban merupakan manifestasi dari iman dan taqwa.

Oleh: Barid Setiawan

REINTERPRETASI PENEGUHAN IDEOLOGI MUHAMMADIYAH

Entah kita sadari atau tidak, realitas yang ada menunjukkan sebagian besar masyarakat ber-Muhammadiyah lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan, warisan leluhur, ataupun pendidikan. Sebagian lagi bermuhammadiyah berdasar pada lelaku kehidupan yang panjang setelah menyelami berbagai Ormas keagamaan. Di masyarakat sering terjadi dikotomi terhadap ormas Islam dengan lebih menonjolkan pada amalan-amalan ibadah. Sehingga terjadi identifikasi sebuah ormas hanya berdasar amal yang umumnya mereka praktekan. Misalnya, Muhammadiyah identik dengan tarawih 11 rakaat, wirit siri, faham hisab, subuh tanpa qunut atau sholat ‘ied di lapangan. Dari sini sering yang terlihat lebih pada sikap ’Keakuanku´ meskipun sesungguhnya pilihan-pilihan ini merupakan hasil usaha jihad fikiran yang dilandasi atas pemahaman ruh syariat.

Fenomena ditingkat grass root terjadi proses kehambaran pemahaman ilmu atas ‘ijtihad’ Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah sendiri banyak yang belum faham landasaan dasar dan arah gerak Muhammadiyah seperti yang telah di letakkan KH. Ahmad Dahlan. Yakni faham keagamaan yang didasarkan atas Alquran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas serta meneladani generasi salaf. Krisis ini salah satunya disebabkan kerena Muhammadiyah kurang melakukan sosialisasi peneguhan sekaligus memfahamkan ruh syariat.

Pilihan-pilihan ‘Ijtihad’ Muhammadiyah khususnya yang berkaitan denga ruh syari’at harus difahamkan kepada masyarakat. Di sisi lain warga Muhammadiyah sendiri perlu senantiasa didampingi dan diingatkan agar senantiasa menjaga semangat tholabul ilmi, jangan sampai masyarakat melakukan amalan hanya karena “Bendera Muhammadiyah” tanpa berupaya menelusuri dasar-dasar ijtihad tersebut. Karena ketika umat melakukan amalan yang tidak dilandasi atas suatu kefahaman ilmu, ini menjadi awal menuju gerbang kegelapan. Maka sangat diperlukan usaha untuk melakukan proses pendidikan. Inilah sesungguhnya yang dimaksud peneguhan ideologi Muhammadiyah. Proses memfahamkan merupakan proses pendidikan yang panjang. Bukan proses yang bersifat ‘mendadak’ tetapi sebuah proses yang bersifat ‘mendidik’.

Sudah saatnya Muhammadiyah menggelorakan kembali semangat thafaquh fiddiin, menggembirakan tholabul ‘ilmi. Ilmu agama merupakan cahaya penerang kegelapan, dan pedang pembabat kebodohon. Sebab kebodohan bagaikan lingkaran setan yang akan menyelimuti ummat ketika mereka tidak punya lagi semangat ‘iqra. Untuk itu sebagai generasi ‘iqra sudah saatnya kita bertugas memotong mata rantai kebodohan, jangan sampai kesalahan-kesalahan yang pernah dialami terulang kembali. Jangan lagi mencari kambing hitam yang tidak sepenuhnya bersalah. Kini saatnya Muhammadiyah bermuhasabah menemukan kesalahan-kesalahan untuk tidak diulangi kembali. Sekaligus meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk diperjuangkan bersama. Begitu indah kala Muhammadiyah bangun dari tidur panjang. Berani menggembirakan kembali semangat inovasi ‘tajdid’ dan besiap-siap fal yughoyyir dengan selalu mengedepankan fastabiqul khoirot !! Wallahu’alam bishowab

oleh: Barid Setiawan
*Pimred Alfajr Tahun I

Rabu, 21 Januari 2009

PENGAJIAN ANAK-ANAK SINGOJAYAN

Salah satu program kerja Remaja Masjid Daarussalam Singojayan adalah Pengajian Anak-anak yang diadakan setiap malam Ahad ba’da Maghrib bertempat di Masjid Daarussalam Singojayan Sendangarum Minggir. Acara ini dipandu langsung oleh angkatan muda Singojayan, meskipun kadang-kadang juga dibimbing oleh bapak-bapak yang lebih tua.

Lalu apa saja kegiatan dalam acara tersebut? Banyak sekali! Meskipun namanya adalah “pengajian”, materi yang diberikan tidak terbatas pada keagamaan saja, tetapi juga mencakup pengetahuan umum. Untuk menghindarkan dari rasa bosan, materi-materi tersebut dikemas dalam beragam bentuk, yaitu berupa ceramah, diskusi, qira’ah, praktik shalat, CCA, games, dan pemutaran film, serta sesekali diselingi dengan kado silang.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ajang silaturrahmi dan menambah pengetahuan anak-anak di Singojayan, khususnya tentang agama Islam, mengingat pelajaran agama yang diberikan di sekolah sangat terbatas, serta untuk mencetak generasi muda yang berkualitas. Selain itu, acara ini dapat menjadi media dakwah yang efektif bagi angkatan muda Jama’ah Singojayan. [rasyid]

Melebarkan Sayap

Bagi para pembaca yang ingin berpartisipasi dalam penerbitan Buletin Al-Fajr ini baik berupa iklan, donasi, artikel, saran dan kritik dapat menghubungi alamat redaksi.
Akhirul kalam, Selamat membaca !!!
(Atau E-mail ke: alfajr@telkom.net / mrperie@yahoo.com)