Media Komunikasi Informasi dan Dakwah --- Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Minggir -- Fastabiqul Khairat .

Label

Minggu, 25 Januari 2009

Sedikit Tentang Kalender Hijriyah

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat/fase-fase) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Yunus [10]: 5)

Sejarah Kalender Hijriyah

Diriwayatkan dari Abu Na’im dan Al-Hakim, bahwa Abu Musa al-‘Asy’ary, salah seorang gubernur pada masa Umar bin Khattab, pernah menyindir Umar dengan berkata: “Telah datang kepadaku beberapa surat Khalifah, namun surat-surat itu tidak ada tanggalnya sehingga aku kesulitan mencari yang lama dan yang baru.”

Kemudian Umar mengumpulkan para pemuka sahabat untuk mencari kesepakatan pemakaian kalender Islam dan bulan pertamanya. Konon ada usul agar perhitungan kalender Islam dimulai dengan bulan Rabi’ul Awwal karena Rasulullah lahir pada bulan itu. Tetapi usul tersebut ditolak dengan alasan menyerupai orang-orang Nasrani yang memulai kalendernya dengan hari kelahiran Yesus. Usul lain menghendaki bulan Ramadhan, tetapi Umar mengusulkan bulan Muharram alasannya pada saat itu orang-orang yang berhaji baru pulang.

Sebenarnya sebelum itu orang Arab sudah menggunakan kalender tetapi belum memperhitungkan tahunnya. Atas usul Ali bin Abi Thalib penetapan tahun dihitung sejak hijrahnya Nabi. Penyusunan Kalender Hijriyah sendiri dimulai sekitar tahun 7 H’ pada masa Umar bin Khattab. Menurut hisab tanggal 1 Muharam tahun itu jatuh pada hari kamis tanggal 15 Juli 622 M. Demikian menurut Ustadz Muhammad Khair bin Hj Moh Taib, seorang ahli Falak dari Malaysia.

Beda!

Kalender Hijriyah berbeda dengan kalender Masehi karena perhitungannya berdasarkan peredaran Bulan mengelilingi Bumi (Qamariyah). Sedang Masehi berdasarkan peredaran Bumi mengelilingi Matahari (Syamsiyah). Jumlah hari dalam satu tahunnya pun berbeda. Masehi berjumlah 3651/4 hari. Sedang Hijriyah dalam satu tahun sama dengan 354 hari 8 jam 48 menit 5 detik yang terbagi dalam 12 bulan. Atau lebih sedikit 11 hari dibanding Hijriyah.

Penamaan bulan dalam kalender Hijriyah didasarkan peristiwa yang terjadi pada waktu-waktu tersebut. Muharram (Asy-Syura) dinamakan demikian karena pada bulan tersebut terjadi peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam. Misal, pertemuan Nabi Adam as dengan Siti Hawa (setelah diturunkan ke Bumi), terbebasnya Nabi Ibrahim as. ketika dibakar Raja Namrud, dsb. Shafar, berarti bulan kosong sebab pada waktu itu banyak orang Arab yang mengembara mencari nafkah ke luar negeri sehingga banyak rumah yang kosong. Rabiul Awwal, (Maulud) berarti mulai tanam, bagi orang Arab ini adalah musim tanam pertama. Rabiul Tsani, saat tanam berakhir (musim tanam ke dua). Jumadil Ula, musim dingin pertama di Arab. Jumadil Tsani, musim dingin terakhir. Rajab, waktu yang subur. Sya’ban, cabang kebaikan, saat seperti ini banyak digunakan untuk berziarah (mengingat mati) sekaligus mendoakan arwah. Ramadhan, bulan saat manusia diwajibkan menahan hawa nafsu. Syawwal, usai perhitungan. Puasa yang dilakukan pada Ramadhan ditimbang menurut kadar keikhlasan dan kesungguhannya. Dzulqa’dah, artinya duduk istirahat setelah melakukan puasa pada Ramadhan. Dan Dzul Hijjah berarti bulan haji pada saat ini nayak ummat Islam yang menunaikan haji.

Kenapa Harus Hijriyah?.

Kalender Hijriyah adalah Kalender Islam. Meski demikian banyak di antara kaum Muslimin yang belum mengenal kalender Hijriyah. Padahal sangat perlu karena penghitungan peristiwa-peristiwa penting dalam Islam didasarkan pada Kalender Hiriyah, misal datangnya Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha (ibadah haji) dan haul zakat mal (: bukan dihitung satu Tahun Masehi!}. Hikmah penggunaan kalender ini, bulan Ramadhan bisa jatuh pada setiap musim. Jika menggunakan perhitungan Syamsiyah (Matahari) misal Bulan Desember, maka daerah di utara khatulistiwa (Khatul Istiwa’) akan mengalami siang hanya 8 jam, sedang di selatan mencapai 14 jam untuk selamanya. Dengan perhitungan Qamariyah hal itu akan terjadi pergiliran. Maha Suci Allah yang telah mengatur semuanya dengan tepat, Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi.” (At-Taubah [9]: 36)

Ini Yang Penting!

Sosialisasi penggunaan kalender Hijriyah memang perlu. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana seorang muslim mengisi lembaran hari-hari pada hidupnya. Sehingga setiap harinya adalah perbaikan. Agar tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Semoga Allah membimbing langkah kita meniti usia yang tersisa dalam cahaya keimanan. Selamat Tahun Baru! [eko] dari berbagai sumber.

Source:

Muchsin, Gz. 2002. Kalender Hijriyah, Majalah Serambi Pesantren edisi 12 Tahun III, Mei-Juni/2002.Yogyakarta: PP Ali Maksum. hlm. 20-22

Kalender PM-NA Tahun 1425-1426 H/2005 M

Basjuni, Z. 1989. Meluruskan Peringatan ‘1 Suro’, Majalah Suara Muhammadiyah edisi No. 17 TH. Ke-69 1-15 September 1989. Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit “Suara Muhammadiyah”. hlm. 37-38

Wahid, Basit. 1990. Tahun Baru 1411 Hijriyah: Kalender Hijriyah Adalah Kalender Islam, Majalah Suara Muhammadiyah, edisi No. 16 TH. Ke-75 16-31 Agustus 1990. Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit “Suara Muhammadiyah”. hlm. 47

Mulyadi, Sustam . 1991. “Sura” dan Ayura”, Majalah Suara Muhammadiyah. edisi No. 14 TH. Ke -76 !5-31 Juli 1991. Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit “Suara Muhammadiyah”. hlm. 17

SUSAHNYA MENGUCAP BISMILLAH…

Bismillah sudah kuucapkan

Bila aku mulai kerjakan

Setiap amal dan perbuatan

Itulah kawan, nabi ajarkan

Lirik lagu tersebut barangkali telah akrab di telinga kita.Tetapi betapa susahnya mempraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal dengan membaca Bismillah, bisa mengubah apa yang mubah menjadi bernilai ibadah. Dari Jabir, Rasulullah Saw., bersabda, “Ketika seseorang masuk ke rumahnya membaca basmalah, dan sewaktu ia makan, maka syaitan-syaitan saling mengomel di antara sesamanya, ‘Kalian tidak berhak menempati rumah ini dan tidak pula makanan di sini.’ Dan ketika seseorang masuk rumahnya tanpa menyebut asma Allah, maka syaitan berkata, ‘Kalian bebas menetap di urmah ini.’ Demikian pula ketika orang itu bersantap tanpa membaca basmalah, maka syaitan berkata, ‘Kalian berhak menetap dan makan secara bebas di rumah ini.” (HR. Muslim)

Sebaliknya tanpa bsimillah, tanpa menyebut nama Allah, bisa mengubah apa yang halal menjadi haram. “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah…” (An Nahl [16]: 115)

Membaca basmalah adalah bagian dari akhlak. Sesuatu yang muncul secara spontan. Tidak memerlukan perenungan panjang. Apalagi direkayasa. Ia muncul tiba-tiba. Tetapi akhlak dapat kita latih, dapat kita ubah dengan memaksa diri melakukannya, mula-mula karena terpaksa dan akhirnya menjadi biasa.

Untuk itu, bacalah basmalah, yang akan menuntun pekerjaan menjadi mudah, berpahala dan penuh berkah.

Ah, jangan-jangan saya sendiri mengawali tulisan ini tanpa membaca bismillah…

Rabu, 21 Januari 2009

PENGAJIAN ANAK-ANAK SINGOJAYAN

Salah satu program kerja Remaja Masjid Daarussalam Singojayan adalah Pengajian Anak-anak yang diadakan setiap malam Ahad bada Maghrib bertempat di Masjid Daarussalam Singojayan Sendangarum Minggir. Acara ini dipandu langsung oleh angkatan muda Singojayan, meskipun kadang-kadang juga dibimbing oleh bapak-bapak yang lebih tua.

Lalu apa saja kegiatan dalam acara tersebut? Banyak sekali! Meskipun namanya adalahpengajian”, materi yang diberikan tidak terbatas pada keagamaan saja, tetapi juga mencakup pengetahuan umum. Untuk menghindarkan dari rasa bosan, materi-materi tersebut dikemas dalam beragam bentuk, yaitu berupa ceramah, diskusi, qira’ah, praktik shalat, CCA, games, dan pemutaran film, serta sesekali diselingi dengan kado silang.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ajang silaturrahmi dan menambah pengetahuan anak-anak di Singojayan, khususnya tentang agama Islam, mengingat pelajaran agama yang diberikan di sekolah sangat terbatas, serta untuk mencetak generasi muda yang berkualitas. Selain itu, acara ini dapat menjadi media dakwah yang efektif bagi angkatan muda Jama’ah Singojayan. [rasyid]

Perjuangan Pemuda Muslim Sebagai Pemuda Masjid

Pemuda muslim ialah generasi penerus perjuangan islam yang memiliki kewajiban untuk melindungi agama islam dan mendakwahkannya ke semua masyarakat. Pemuda muslim adalah suatu generasi yang seharusnya nemiliki jiwa pejuang dan patriotisme yang berkobar-kobar untuk memperjuangkan islam. Di tangan para pemuda muslimlah masa depan islam ditentukan.

Pikiran dan usulan yang kritis biasanya berasal dari para pemuda. Tak jarang bila kita tengok sejarah islam, banyak para pemuda yang memimpin orang-orang yang lebih senior dari mereka, seperti Zubair bin Awam, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit dan Sebagainya. Selain itu, para rasul dan nabi pun diangkat oleh Allah SWT dari kaum pemuda terpilih. Mereka dipilih oleh Allah karena pemuda lebih tangguh dalam fisik maupun cara berfikir. Pemuda telah dipercaya oleh Allah untuk memperjuangkan agama islam sejak zaman dahulu. Kita sebagai pemuda muslim harus terus menyambung dan meneruskan perjuangan para muslim sebelum kita dengan mencontoh rasa dan jiwa pejuang para rasul dan nabi maupun sahabat-sahabat Rasulullah yang merupakan contoh konkret dalam memperjuangkan islam pada masanya.

Pemuda muslim dapat ikut serta dalam perjuangan islam dengan menjadikan hatinya terkait dengan masjid. Masjid merupakan bagian penting untuk membentuk pemuda islam . Shalat bukan semata-mata untuk memperbanyak kebaikan, tetapi Allah SWT memperbanyak kebaikan dari shalat berjamaah supaya mendorongmu untuk ke masjid. Jadi Allah SWT telah memerintahkan kita untuk selalu pergi dan meramaikan masjid untuk shalat berjamaah. Dari shalat berjamaah di masjid itu kita akan dapat memperoleh banyak kebaikan yang dapat kita nikmati di dunia maupun di akhirat. Seperti Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Huraiarah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Siapa yang pergi ke masjid atau pulang dari masjid, maka Allah akan menyediakan tenpat baginya di surga setiap ia pergi atau pulang dari masjid tesebut”.

Masjid adalah tempat untuk menjaga hubungan baik seseorang dengan masyarakatnya. Sebelumnya, kita sebagai kader penerus perjuangan islam harus bias menyempatkan diri untuk selalu pergi ke masjid. Setiap kita pergi ke masjid, kita bisa bertemu dengan pemuda-pemuda muslim yang lain yang bersama-sama bejuang dalam mendakwahkan islam. Semakin lama kita akan semakin dekat dengan pemuda-pemuda muslim lain tersebut, sehingga kita bias bertukar pikiran dengan mereka.

Dengan semakin dekatnya maupun bersatunya kaum pemuda muslim, islam akan selalu terlindungi dan terjaga. Dengan semakin dekatnya para pemuda muslim, kita bisa bersama-sama melakukan kegiatan bermanfaat di sekitar masjid tersebut. Masjid tentunya sangat berperan penting dalam memebentuk pemuda sebagai kader penerus islam, karena masjid akan selalu mempersatukan umat muslim untuk selalu memperjuangkan islam sebagaimana menjadi kewajiban pemuda muslim.

Tentunya dalam hal ini, kita sebagai pemuda dapat memanfaatkan masjid dengan sebaik mungkin. Kita dapat mempertemukan semua kalangan masyarat di masjid untuk bersama-sama berjuang di jalan Allah. Kita bisa mengembangkan islam melalui dakwah di masjid tersebut. Apabila para pemuda muslim selalu berkumpul dan bersatu, maka islam akan semakin kuat dan tangguh. Masjid dapat dijadikan tempat bertemunya para pemuda muslim. Para pemuda muslim dapat memanfaatkan masjid dengan membuat forum maupun pengajian yang akan dapat mempersatukan semua kaum muslim seperti majlis ilmu, majlis tahfidz Al-Quran dan kultum seusai shalat lima waktu. Maka dari itulah kita bisa merubah diri kita menjadi pribadi muslim yang shalih. Dengan forum dan pengajian tersebut, para pemuda muslim akan bisa mendakwahkan agama islam dengan lebih mudah.

Kita semua umat muslim memang dianjurkan oleh Allah SWT untuk memakmurkan masjid, Orang yang hatinya merasa terikat dengan masjid, dia akan bisa menjaga tingkat keimanan dan ketakwaan secara tetap. Karena itulah Allah SWT berfirman, yang artinya:

"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. At-Taubah 18)

Orang yang senantiasa melakukan shalat di masjid dan memakmurkan masjid, dia adalah orang yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, kemudian dia menolong saudaranya berdasarkan keimanan itu. Bila ia merasa sedikit frustasi, maka akan ada orang lain yang akan mengingatkan dan mendukungnya. Lebih dari itu, konsentrasi dan kekhusyukan seorang muslim ketika shalat di dalam masjid lebih tinggi dari pada ketika ia shalat di rumah. Oleh karena itu, pahalanya lebih banyak. Apalagi jika dikerjakan dengan berjamaah, tentu manfaat tersebut tak terhitung jumlahnya.

Seorang pemuda muslim haruslah bisa memakmurkan masjid sebagaimana firman Allah SWT tadi yang menyuruh kita untuk memakmurkan masjid. Apabila masjid terisi oleh banyak pemuda, islam akan terus berdiri tegak. Bangsa non-muslim akan takut kepada orang muslim apabila para pemudanya dapat meramaikan masjid, karena itu adalah tanda bersatunya dan kekompakan pemuda muslim.

Masjid adalah tempat yang paling pas untuk memperbaiki kehidupan pemuda muslim saat ini. Zaman sekarang telah memasuki zaman modern dan globalisasai. Banyak pengaruh buruk yang akan membawa para pemuda terpuruk ke jurang kemaksiatan. Zaman seperti saat ini hanya akan memecah belahkan kekompakan umat muslim. Untuk menghindari it semua, sebaiknya para pemuda muslim rajin-rajinlah untuk selalu meramaikan masjid. Apabila kita selalu pergi ke masjid, insya allah pergaulan kita akan terjaga dan kita akan terhindar dari hal-hal yang negatif yang dapat merusak citra umat muslim.

Dengan menjaga diri untuk tetap ke masjid, kita sama saja sudah menyelamatkan islam dari kehancuran. Kita juga sudah berjuang di jalan islam untuk menjaga tali persaudaraan antar umat islam untuk menegakkan islam agar tidak goyah dan roboh.

Oleh: Andika Ilham Rahmatullah *
( Buletin Al-Fajr / Edisi 10 / Tahun II / Februari '08 / Rabiul Awwal 1430 H )

Minggu, 04 Januari 2009

BELAJAR DARI HIJRAH ROSUL

Setiap kita memasuki Bulan Hijriyah, umat Islam diingatkan pada peristiwa pindahnya Rasulullah SAW dan para sahabat beliau dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa itu bermula dari beberapa pemimpin suku Quraisy berembug untuk membinasakan Rasul bersama-sama dengan mengirim seorang pemuda dari masing-masing kafilah yang ada. Rencana jahat ini kemudian disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasul sekaligus mengabarkan bahwa Allah memerintahkan untuk pindah (hijrah) ke Yasrib (Madinah). Dan malam harinya, beliau berangkat bersama sahabat karibnya Abu Bakar Ash Shidiq.

Hijrahnya Rasul dari Mekah ke Madinah hanyalah merupakan perpindahan tempat atau makaniyah, dimana hampir setiap orang bisa melakukannya. Hakekat yang paling penting dari peristiwa itu adalah “Israrun ala al-haq”, yakni senantiasa berpijak di atas kebenaran, memperjuangkan dan mempertahankannya. Hikmah dari peristiwa itu adalah adanya upaya untuk mentransformasikan tingkat kehidupan yang lebih bermutu, baik spiritual maupun materialnya. Selain itu mengadung nilaii pendidikan bagi manusia bahwa kehidupannya mengenal ruang dan waktu (space and time) dari satu masa terdahulu ke masa kini dan masa berikutnya.

Bilamana seorang muslim mampu mengambil ibroh atau pelajaran dari peristiwa Hijrah itu, maka Allah memberikan sanjungan yang sangat tinggi kepada orang yang melaksanakan hijrah sesuai dengan firman Nya:

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. (QS. At Taubah: 20)

Allah memberikan sanjungan yang tinggi karena dalam melakukan hijrah membutuhkan pengorbanan, baik jiwa maupun raga. Oleh karena itu, tidak boleh hilang dalam kehidupan seseorang semangat berjuang mengatasi berbagai kesulitan hidup. Untuk itulah, dalam mencapai keberhasilan harus didasari optimisme dan perjuangan

Berikut gambaran tipe manusia dalam berjuang yang disertai optimisme;

1. Tipe Quiters, artinya orang ini ibarat seorang pendaki, sudah gamang melihat medan yang akan ditempuh, jalan semakin naik, dan pesimis untuk bisa sampai di puncak. Orang ini berarti telah putus asa sebelum bertindak (berbuat).

2. Tipe Campers, yang senangnya melakukan kemah. Ibarat mendaki, sudah sampai ditengah perjalanan, lupa akan hakekat-tujuan yang hendak dicapai. Terlalu asyik-enjoy beristirahat, akhirnya mengurungkan niat dan kembali turun, karena merasa tidak mampu lagi.

3. Tipe Climbing, artinya seorang pendaki sejati. Setinggi gunung Himalaya pun akan dia daki, meskipun di depanya penuh onak dan duri, pasti akan ia lewati, seterjal apapun tebing kanan-kirinya, akan ia lewati pula. Artinya; dalam mengarungi kehidupan, ia optimis terhadap masa depannya, tergar dalam menghadap aral, teliti dalam bertindak hingga akhirnya menunai keberhasilan. Satu yang tidak pernah dia lupakan dalam tipe ini (dalam hubungannya dengan Allah), senantiasa Khusnudzan pada Nya, optimis Allah akan memberi petunjuk dibalik kesukaran-kesukaran yang dijumpai. Allah berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya dibalik kesukaran itu ada kemudahan” (Al Insyiroh :6 )

Keyakinan pada Allah dan optimis inilah yang tidak semua orang memiliki, ataupun kalau memiliki kadarnya tentu berbeda satu dengan lainnya. Tangan Allah akan menggapai, memberi pertolongan kepada siapapun yang berusaha dengan penuh optimisme akan berhasil dalam usahanya itu. Apabila belum sekarang tentu tidak boleh kendor, bisa saja hanya tertunda. Tetapi yang jelas, ingat kepada Allah dan keyakinan akan datangnya pertolongan Allah akan meredakan kegelisahan dan menggantinya dengan ketenangan, sehingga mampu memperhitungkan segala sesuatu dengan cermat, sehingga hasilnya lebih maksimal.

Ibroh peristiwa Hijrah Rosul yang lain, pertama ditekankan agar ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) perlu terus menerus ditingkatkan. Keharusan ini didasari bahwa kegagalan dan timbulnya konflik sosial, politik dalam tubuh umat Islam saat ini, baik skala internasional, nasional, regional maupun lokal, disebabkan lemahnya daya rekat rasa persaudaraan antar sesamanya. Kedua, Ukhuwah diartikan sebagai persudaraan Islam yang secara umum berlaku baik bagi setiap muslim maupun non muslim. Pengertian disini adalah antar lintas agama (ukhuwah Insaniyah), bukan ukhuwah imaniyah (persaudaraan seiman). Karena kita sadar, setiap agama punya sekat keimanan yang tidak mungkin disatukan. Hal ini memberikan gambaran untuk membina kebersamaan dengan sesama warga Negara dan umat manusia secara universal. Keadaan ini dibuktikan oleh rasulullah dalam merajut tali persaudaraan menjalin perjanjian dengan orang Yahudi Madinah.

Dalam perjanjian itu disepakati bahwa setiap penduduk Madinah diakui dan ditetapkan kemerdekaannya untuk memeluk dan mengamalkan agama masing-masing. Selain itu disepakati juga adanya kebersamaan dalam menjaga stabilitas Madinah dari berbagai kendala. Ini menggambarkan bahwa hal yang menyangkut kepentingan umum (urusan dunia) umat Islam tidak dilarang duduk berdampingan orang lain.

Tentu banyak makna yang lain bisa kita dapatkan dari peristiwa Hijrah Rasul, diantaranya:

1. Berhijrah dari perbuatan buruk ke perbuatan baik

2. Hijrah dari perbuatan haram ke perbuatan halal

3. Hijrah dari perilaku nista kepada perilaku terpuji

4. Hijrah dari keterbelakangan menuju kemajuan

5. Hijrah dari kemiskinan menuju kecukupan

6. Hijrah dari kebodohan menuju kecerdasan

7. Hijrah dari pertentangan menuju kerukunan, dsb.

Dengan demikian, tidak sekedar secara maknawinya saja kita peringati Persistiwa Hijrah Rasul, hakekat, intisari itu juga penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah penerapan nilai-nilai intrinsik baik moral ataupun spirit dari peristiwa hijrah itu di dalam keseharian kita. Amin.

Disarikan dari berbagai sumber.
oleh: Imam Triyono*
*) Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Minggir Tahun 2008.
( Buletin Al-Fajr Edisi 9 / Tahun II / Januari '09 / Muharram 1430H )


Melebarkan Sayap

Bagi para pembaca yang ingin berpartisipasi dalam penerbitan Buletin Al-Fajr ini baik berupa iklan, donasi, artikel, saran dan kritik dapat menghubungi alamat redaksi.
Akhirul kalam, Selamat membaca !!!
(Atau E-mail ke: alfajr@telkom.net / mrperie@yahoo.com)