Media Komunikasi Informasi dan Dakwah --- Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Minggir -- Fastabiqul Khairat .

Label

Minggu, 31 Oktober 2010

CINTA DI ATAS CINTA

Carilah cinta yang sejati
Yang ada hanyalah pada-Nya
Carilah cinta yang hakiki
Yang hanya pada-Nya yang Esa
Carilah cinta yang abadi
Yang ada hanya pada-Nya
Carilah kasih yang kekal selamanya
Yang ada hanyalah pada Tuhanmu
(Raihan, Carilah Cinta)


Ibrahim Khalilullah

Ibrahim adalah kekasih Allah. Seperti tersurat dalam QS An Nisa’ [4]: 125, “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”
Dialah nabi yang mendapat gelar khalilullah. Itu semua disematkan kepada Nabi Ibrahim karena beliau telah mampu melewati berbagai ujian yang berat. Ujian terhadap keimanannya. Ujian terhadap kadar cintanya kepada Allah. Ibrahim mampu memposisikan kecintaannya kepada Allah di atas segala kecintaan terhadap kesenangan duniawi.
Awalnya, untuk menemukan Sang Kekasih, Ibrahim mesti melewati proses pencarian yang panjang. Ia berusaha mengenal Sang Kekasih di tengah kepungan adat kaumnya yang saat itu menyembah berhala. Semula ia menganggap bintang sebagai Tuhan. Lalu bulan dan matahari. Tapi masing-masing hilang berganti seiring berputarnya waktu. Sampai akhirnya ia berkesimpulan, Kekasih yang ia cari adalah pencipta dari bintang, bulan, matahari dan alam semesta ini. Begitulah, cinta itu tumbuh melalui pencarian melelahkan, tapi dari sanalah keimanan itu menjadi berkesan dan terpatri dalam hati.




Melewati Berbagai Ujian

Saat kebenaran sudah ia dapatkan. Ujian demi ujian datang silih berganti. Sang Kekasih ingin menguji kadar kecintaan Ibrahim. Seperti juga iman yang tak sempurna tanpa amaliyah. Cinta pun butuh pembuktian. Cinta perlu pengorbanan! Mula-mula Ibrahim diuji harus berpisah dengan keluarga. Ayahnya, Adzar, yang saat itu masih menyembah berhala tetap enggan beriman bahkan memberikan suatu pilihan pahit, “Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (Maryam [19]: 46)
Ibrahim harus memilih, berkumpul dengan keluarga dalam kekafiran, atau pergi membawa keimanan. Dengan penuh haru, opsi kedualah yang dipilih: berpisah dengan keluarga. Cinta kepada Allah telah mengalahkan kecintaannya kepada keluarga.

Waktu bergulir. Seiring keimanan yang tumbuh subur dalam jiwa. Kecerdasan seorang Ibrahim pun terus berkembang. Hingga satu ketika dengan penuh keberanian, ia berusaha menghancurkan lambang kekafiran kaumnya. Ia robohkan semua berhala yang biasa disembah pada masa itu, kecuali satu. Sengaja ia memilih berhala yang paling besar agar tetap utuh dan dikalunginya dengan kapak. Saat kaumnya dengan penuh kemarahan mengintrogasi Ibrahim, ia berucap, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al Anbiyaa' [21]: 63)

Itulah jawaban seorang pemuda yang memadukan keimanan, keberanian dan kecerdasan. Lebih dari itu, dalam peristiwa tersebut Ibrahim telah siap mengorbankan diri dan jiwanya demi kecintaannya kepada Allah. Ibrahim paham betul resiko dari apa yang ia lakukan. Tapi cinta kepada Allah telah menghapus segala ketakutan itu. Pengorbanan dan cinta itu kemudian dibalas tunai oleh Sang Kekasih, yang tidak rela Ibrahim dianiaya,
“Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: "Bunuhlah atau bakarlah dia", lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” ( Al Ankabut [29]: 24)

Ujian terhadap kecintaan kepada Sang Kekasih terus berlanjut meskipun telah memasuki bahtera rumah tangga. Pernikahan pertamanya dengan Sarah, belum juga diberi keturunan. Padahal usianya telah menginjak senja. Tanpa putus asa dia terus berdoa. Memohon kepada Sang Kekasih Yang Maha Kaya. Sampai tibalah ia harus menikah dengan Hajar. Dari Hajar inilah kemudian Allah mengamanahkan seorang anak yang shaleh bernama Ismail. Ismail tumbuh menjadi pemuda yang beriman. Menjadi harapan untuk melanjutkan estafet dakwah dan penyeru kebenaran. Saat kecintaan dan kebahagiaan itu mencapai puncak. Sang Kekasih kembali ingin menguji kadar cinta Ibrahim. Turunlah perintah melalui mimpi, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" (Ash Shaaffaat [37]: 102)

Dan Ismail, sang putra yang shaleh itu menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (Ash Shaaffaat [37]: 102)
Sebuah percakapan yang memilukan. Tetapi sekali lagi cinta itu bekerja. Kekuatan cinta kepada Allah sanggup mengalahkan segala kecintaan terhadap kesenangan duniawi. Keimanan mampu melumpuhkan tipu daya setan, kesabaran bisa menundukkan hawa nafsu. Ismail pun dikurbankan. Tetapi kembali, Sang Kekasih, yang telah menyaksikan pengorbanan Ibrahim sebagai bukti kadar kecintaannya, menunjukkan kemurahan-Nya. Ismail diganti dengan ghibas. Peristiwa tersebut kemudian diperingati tiap tahun dalam bentuk penyembelihan hewan qurban. Selain itu Nabi Ibrahim juga diberi kelebihan yakni menjadi bapak para nabi, karena banyak dari keturunan beliau yang kemudian diangkat menjadi nabi, antara lain Ismail, Ishak sampai Musa dan Muhammad Saw.


Hakikat Qurban dan Kemauan Berbagi

Kisah Ibrahim dan Ismail menjadi tonggak awal disyariatkannya qurban. Lambang kemenangan iman atas hawa nafsu. Kemengan cinta kepada Allah atas cinta kepada selainNya.
Qurraba, itulah asal kata dari qurban yang bermakna mendekat. Mendekat kepada Allah. Mendekat kepada pemilik semua nikmat dengan cara menafkahkan sebagian dari rizki yang kita cintai dalam bentuk binatang qurban. Hewan yang kita qurbankan hanyalah sarana menuju kedekatan itu. Ia tidak bermakna apa-apa saat kita meniatkannya hanya untuk tujuan-tujuan jangka pendek yang bersifat duniawi. Ketenaran, penghormatan, sanjungan dan puja-puji dari sesama manusia. Apalagi sekedar ‘program perbaikan gizi’. Karena sesungguhnya yang sampai kepada Allah bukanlah daging atau darah qurban itu, namun ketakwaan. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Al Hajj [22]: 37)

Qurban harus dilandasi takwa. Sebagai wujud kepatuhan kepada perintah Allah serta bentuk kesyukuran atas karunia Allah yang tak berputus. Inilah hakikat qurban secara vertikal, dalam mewujudkan hablum minallah. Kedekatan hamba dengan Sang Pencipta.
Selain itu, qurban juga melatih kepedulian. Mengajak kepada manusia agar bersedia berbagi. Karena berbagi itu terangkan hati. Berbagi itu investasi tak kenal rugi. Tabungan amal yang suatu saat akan terbalas. Ibadah qurban mengajarkan bagaimana berinteraksi dengan sesama. Mempertajam kepekaan sosial. Di sinilah hakikat qurban secara horizontal sebagai bagian membumikan hablumminannas. Keharmonisan hubungan antar sesama manusia.
“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (Al Hajj [22]: 28)
Bila dengan qurban itu, seorang hamba mampu memupus hawa nafsu yang selalu mengajak untuk mencintai dunia secara berlebihan, berarti ia telah mampu membuktikan kadar ketakwaannya. Bila dengan qurban itu seorang hamba kemudian lebih peka terhadap keadaan sosial dan kondisi saudaranya, itu pertanda ia sudah bisa mengerti hakikat qurban sesungguhnya. Tanpa itu semua, qurban hanya akan menjadi rutinitas tiap tahun tanpa ruh dan tanpa makna.

Khatimah

Episode demi episode cinta yang telah dijalani Nabi Ibrahim menjadi bukti hakikat cinta yang sejati. Cinta tak berakhir. Cinta yang pasti terbalas sempurna, bahkan lebih dari apa yang telah diberikan. Cinta yang tidak menyisakan kecewa, apalagi kepedihan. Itulah cinta Allah. Cinta di atas cinta. Dan semestinya begitu seorang Mukmin menjalaninya.
“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At Taubah [9]: 24)
Jika di hatimu ada cinta, dengarkanlah seruan dari Sang Kekasih Yang Maha Sempurna. “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (Al Kautsar [108]: 2)
Wallahu a’lam bishawwab

Selasa, 19 Oktober 2010

Tangga-Tangga Meraih Keberhasilan

“Tiap-tiap diri itu dibalas sesuai dengan apa yang ia usahakan.” (Thaahaa [20]: 15)

Bekerja untuk kehidupan dunia merupakan salah satu kewajiban setiap muslim setelah melaksanakan ibadah wajib (fardhlu). Islam memerintahkan umatnya untuk selalu mempersiapkan bekal akherat. Tetapi Islam tidak menginginkan hal itu dilakukan secara berlebihan hingga melupakan kebahagiaan hidup di dunia. Maka setiap Muslim dianjurkan agar tekun dan rajin dalam bekerja mencari penghidupan dunia. Keduanya harus berjalan selaras, Islam tidak ingin umatnya berada dalam kemiskinan dan kebodohan dengan dalih mencapai keshalehan individu.

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan akhirat), dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi.” (Al-Qashash [28]: 77)

Bekerja untuk kepentingan dunia dalam pandnagan Islam bisa juga dinilai sebgai ibadah. Kerja yang dimaksud bukanlah dengan sekehendak hati ataupun hanya memburu kesenangan sesaat. Ada adab serta tata cara yang mesti dipatuhi agar hasil kerja yang dilakukan dapat mencapai nilai maksimal dan bermanfaat bukan saja di dunia tetapi juga menjadi amal bagi kehidupan kelak di akherat.



Pertama, mengawali dengan niat yang baik.
Dalam sebuah hadits disebutkan amal itu tergantung pada niatnya. Untuk itu bekerja pun harus dengan niat yang benar, yakni mencari ridha Allah semata. Paling tidak diawali dengan membaca bacaan Basmalah atau membaca do’a. Dalam Al-Qur’an disebutkan, yang artinya, “Dan katakanlah: ‘Ya, Tuhanku, masukakanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (Al-Israa’ [17]: 80)

Kedua, bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuan
Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka manusia diperintahkan untuk saling ta’aruf dan tolong-menolong sesuai peran yang diembannya. Tugas setiap diri adalah mengenali potensi yang dimilikinya untuk kemudian dijadikan modal dalam berusaha. Adakalanya seseorang mempunyai kelebihan fisik (tenaga), tetapi akal dan modal finansialnya terbatas maka ia dapat mengoptimalkan tenaga itu untuk bekerja. Allah Swt. berfirman artinya,

“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Isra’ [17]: 84)

Ketiga, memilih pekerjaan yang baik dan halal meskipun sulit
Setiap tahun angka pengangguran di negara kita kian membengkak. Sulitnya mencari kerja menyebabkan sebagian dari saudara kita ada yang menempuh cara apapun untuk mendapatkan pekerjaan. Salah satunya dengan praktek KKN dan suap-menyuap yang bukan rahasia lagi.
Tetapi Islam menghendaki agar umatnya tetap selektif dalam mencari pekerjaan meski sulit. Pekerjaan yang baik dan halal lebih disukai meskipun hasilnya sedikit, daripada pekerjaan yang mendatangkan keuntungan banyak tetapi tidak halal. Karena keberkahan rizki yang kita terima tidak terletak pada banyak sedikitnya hasil. Namun terletak pada cara mencari dan untuk apa dipergunakan rizki itu.
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah [5]: 100)

Keempat, bekerja dengan sungguh-sungguh
Kesungguhan dan kerja keras sangat diperlukan dalam melakukan suatu pekerjaan. Bahkan dikatakan kesuksesan itu ditentukan oleh 1% bakat dan 99% kerja keras. Dengan kerja keras seseorang tidak akan cepat putus asa apabila gagal. Sebaliknya ia akan tetap bertahan dan mencoba langkah (metode) lain hingga berhasil.
Allah berfirman, artinya, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj [22]: 78)

Kelima, mengoptimalkan potensi diri yang ada
Untuk mengoptimalkan potensi diri diperlukan latihan yang terus-menerus. Karena umumnya seseorang tidak mengetahui seberapa besar potensi yang dimilikinya. Salah satu solusinya ialah dengan tidak takut untuk mencoba dan mencari pengalaman.
Allah berfirman, artinya, “Katakanlah: ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula).” (Al-An’aam [6]: 135)

Keenam, tidak setengah-setengah dalam bekerja
Melaksanakan pekerjaan yang sudah dipilih tidak boleh hanya sekenanya saja. Tetapi harus diusahakan agar mencapai hasil maksimal baik secara kwalitas maupun kwantitas. Karena Allah telah mencontohkan bagaimana Dia menciptakan dunia ini dengan sebaik-baiknya
Allah berfirman, artinya, “Yang membuat sesuatu Dia ciptakan sebaik-baiknya.” (As-Sajdah [32]: 7)
Dalam ayat lain, “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (Al-Qashash 28]: 77)

Ketujuh, bekerja dengan efektif
Dalam bekerja unsur efektifitas haruslah menjadi prioritas. Baik mengenai waktu, tenaga maupun pendanaan. Sebab segala sesuatu itu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Untuk dapat lebih efektif dapat disiasati dengan menyusun rencana kerja yang matang sehingga segala sesuatunya dapat terlaksana dengan lancar.
Allah berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mukminun [23]: 3)

Kedelapan, melakukan evaluasi
Dalam suatu proses pekerjaan tentu tidak selamanya akan berjalan sesuai rencana yang kita inginkan. Untuk itu kita perlu melakukan evaluasi terhadap hasil dari apa yang telah kita kerjakan maupun apa yang belum bisa kita kerjakan. Agar kita bisa mengetahui faktor-faktor yang menghambat kerja kita. Sehingga kita bisa mencari solusi di masa yang akan datang.
Allah berfirman yang artinya, “Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (Al-Hasyr [59]: 18).

Kesembilan, mengiringi setiap usaha dengan do’a
Bagi seorang muslim doa bukan saja merupakan sebuah permohonan tetapi juga dikatgorikan sebagai ibadah. Mengiringi kerja dengan doa merupakan formula yang efektif karen tanpa pertolongan Allah manusia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Kita hanya mampu berusaha sedangkan hasilnya Allah-lah yang menentukan.

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (Al-Mu’minun [40]: 60)

Itulah sebagian ajaran Islam mengenai etos kerja. Sekarang tinggal bagaimana kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Semoga berhasil! Wallahu ‘alam bi ashawab.

Senin, 11 Oktober 2010

KUTIPAN 2

“Allah memberi kemudahan kepada siapapaun yang dikehendaki, sebaliknya Allah juga menyesakkan dada orang yang tidak diberi petunjuk.”
- Ust. Joni Sudarsono -
Pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu, 15 Oktober 2009

“Rohani akan tercukupi dengan beriman, metaati perintah Allah dan melakukan kebajika-kebajikan, maka hidup ini akan terasa lebih indah.”
- Ust. Sukaryanto -
Pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu, 28 Oktober 2009

“Allah akan menjawab keinginan kita, lebih cepat dari yang kita duga.”
- Ust. Wahyudi, S. Ag. -
Pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu, 11 November 2009 (edisi spesial)

MENITI JALAN MENUJU TAKWA

Allah pun Telah Menjanjikan Kemenangan

Dalam salah satu firmanNya Allah dengan tegas telah berjanji, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raf [7]: 96)
Lalu mungkin kita bertanya, mengapa umat Islam dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim justru menjadi negara-negara yang tertinggal? Apakah ada yang salah dengan janji Allah tesebut?



Dalam kalamNya yang abadi, Allah juga berjanji, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Ath Thalaaq [65]: 2)

Dengan demikian semestinya umat Islam menjadi umat terbaik (khairu ummah). Mampu mengatasi rintangan dan cobaan yang dihadapi karena Allah telah menjamin adanya jalan keluar dari setiap kesulitan, memberi petunjuk dalam setiap kegelapan, menghadirkan ketenangan dalam setiap kegalauan.

Apakah Allah ingkar janji? Jawabnya jelas: Tidak! Karena Allah adalah Dzat yang selalu menepati janji. Jika sampai saat ini umat Islam masih terbelakang dan tertinggal dengan umat lain, boleh jadi kita sejatinya belum layak mendapat predikat takwa. Kita belum memenuhi persyaratan sebagai kaum yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah. Maka cara terbaik untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan perbaikan diri, keluarga, masyarakat dan umat, sehingga kita layak medapatkan pertolonganNya. Semakin jauh kita dari Allah, berarti pula kita menjauhkan diri dari pertolongan Allah.

Janji Allah dalam Al Quran tersebut juga tidak dimaksudkan untuk membuat umat Islam terbuai, lalu hanya berpangku tangan menunggu keadaan itu terjadi. Sebaliknya janji Allah tersebut harus menjadi pemacu bagi setiap Muslim untuk berbenah, berusaha mewujudkannya dengan suatu keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan akan semakin mendekatkan terwujudnya apa yang telah Allah janjikan itu.

Jamaludin Al Afghani menyebut kelemahan umat Islam bukan terletak pada ajarannya. Tapi umatnya yang tidak mau belajar, statis, fatalis dan salah dalam memahami takdir yang membuat mereka tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Jamaludin berpendapat bahwa takdir (qadha dan qadhar) mengandung maksud sesuatu terjadi menurut sebabnya. Bukan terjadi dengan sendirinya. Dengan demikian manusia semestinya bersungguh-sungguh mengupayakn sebabnya.

Jika Kalian Bertakwa!
Berbagai keutamaan dan kebaikan akan diperoleh orang-orang yang menjadikan takwa sebagai hiasan diri. Mengiringi setiap lintasan bathin, mewarnai setiap tutur kata, dan mewujud dalam setiap tingkah laku.

Pertama, orang yang bertakwa akan dicintai oleh Allah, “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Ali 'Imran [3]: 76)

Kedua, ditunjukkan jalan keluar dari persoalan dan diberi rizki dari arah yang tak diduga. Allah berfirman, artinya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath Thalaaq [65]: 2-3)

Ketiga, tidak akan mudah terpedaya oleh tipu muslihat musuh, seperti disebutkan dalam Al Quran, “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali 'Imran [3]: 120)

Keempat, akan memperoleh petunjuk dan diampuni kesalahannya. “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al Anfaal [8]: 29)

Dalam Al Quran terjemahan Depag, furqaan dimaknai sebagai petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, dapat juga diartikan sebagai pertolongan.
Kelima, mendapatkan rahmat Allah. “Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Hadiid [57]: 28)

Keenam, memperoleh pahala dari sisi Allah, “Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 103)
Ketujuh, berhak mewarisi surga dengan segala kenikmatannya, “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (Maryam [19]: 63)
Dan tentu masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang telah disediakan Allah bagi orang-orang yang bertakwa.

Berupaya Menjadi Insan Bertakwa
Ada sebuah dialog menggetarkan. Ketika Allah bertanya kepada manusia. Kepada kita semua.
“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?’” (Yunus [10]: 31)

Dalam firmanNya yang lain, Allah juga bertanya, “Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapakah pemilik langit yang tujuh, pemilik ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Maka katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?” (Al Mu’minun [23]: 84-87)

Menjadi insan yang bertakwa adalah keharusan setiap Muslim. Meskipun untuk mewujudkan tidaklah semudah mengucapkannya. Perlu proses dan usaha secara konsisten. Takwa adalah sebuah pilihan di antara pilihan lainnya. Orang yang tidak memilih ketakwan berarti ia mendekati kefasikan. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy Syams [91]: 8-10)

Takwa menjadi pembeda derajat kedekatan seorang hamba dengan Rabbnya. Semakin tinggi derajat ketakwaannya berarti semakin tinggi pula kedudukannya dalam pandangan Allah. Seperti juga keimanan, ketakwaan tidak bisa diwariskan, tidak bisa diperjualbelikan pun dipaksakan. Tetapi ia muncul dari usaha seorang hamba, buah dari ibadah-ibadah yang dipersembahkan hanya untuk Allah. Karena sesungguhnya ujung dari ibadah itu adalah agar seorang hamba menjadi insan yang bertakwa.

Seorang mukmin diwajibkan berpuasa agar bertakwa. Seorang muslim yang melaksanakan qurban maka yang diterima adalah takwanya. Begitupun ibadah lainnya bermuara pada takwa. Amal saleh tanpa dibarengi ketakwaan bisa jadi tiada berguna.
"Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa." (Al A'raaf [7]: 171)

Dalam salah satu sabdanya Rasulullah menasehatkan, “Bertakwalah kepada Allah karena itu adalah kumpulan segala kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah karena itu adalah kerahiban kaum muslimin, dan berdzikirlah kepada Allah serta membaca kitabNya, karena itu adalah cahaya bagimu di dunia dan ketinggian sebutan bagimu di langit. Kuncilah lidah kecuali untuk segala hal yang baik. Dengan demikian kamu dapat mengalahkan setan.” (HR. Thabrani)
Kemudian, marilah kita berupaya terus meniti jalan menuju takwa. Sebab setiap helaan napas sejatinya adalah pertanda bahwa kita kian dekat dengan alam kubur. Bergantinya hari sesungguhnya menjadi peringatan bahwa jatah umur kita di dunia semakin berkurang. Maka alangkah beruntungnya orang yang mampu mengakhiri episode kehidupannya, dengan menjadi insan bertakwa.
Wallahu a’lam bi shawwab.
[3ko]

KUTIPAN 1

“Janganlah kita sekedar ‘cangkem soleh’, hanya pandai berbicara baik tetapi tidak disertai amal shaleh.”Ust. Nur Widodo
pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu (27 Mei 2009)


“Jangan jadi Islam abangan, pahami Islam dengan baik Bung!”

Ust. Jamil Rifanto

pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu (10 Juni 2009)

“Banyak orang lebih mudah menilai orang lain dari pada menilai dirinya sendiri.”
Ust. Sunu Tri Widodo

pada Fosimakis PCPM Minggir, Rabu (24 Juni 2009)

Melebarkan Sayap

Bagi para pembaca yang ingin berpartisipasi dalam penerbitan Buletin Al-Fajr ini baik berupa iklan, donasi, artikel, saran dan kritik dapat menghubungi alamat redaksi.
Akhirul kalam, Selamat membaca !!!
(Atau E-mail ke: alfajr@telkom.net / mrperie@yahoo.com)