Media Komunikasi Informasi dan Dakwah --- Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Minggir -- Fastabiqul Khairat .

Label

Sabtu, 09 Oktober 2010

KOKAM DAN PCPM MINGGIR ADAKAN LONGMARCH

KOKAM bersama PCPM Kecamatan Minggir, Sleman belum lama ini mengadakan longmarch ke Goa Kiskendo, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini digelar sebagai pemanasan secara fisik bagi para anggota KOKAM yang akan diterjunkan berpartisipasi dalam menyukseskan Muktamar satu abad Muhammadiyah. Kegiatan diikuti sekitar 25 anggota KOKAM dengan menempuh jarak sekitar 32 km menyusuri pegunungan menoreh. Rombongan berangkat dari kantor Redaksi Buletin Al Fajr (buletin PCPM Minggir), Nanggulan Sendangagung Minggir, dilepas oleh sekretaris PCM Minggir, Wawan Sutrisno, S. Ag.

Sementara di tempat tujuan, kegiatan diisi dengan taushiyah oleh Ust. Wahyudi, S. Ag. S.IP. anggota senior KOKAM Daerah Sleman. Dalam kesempatan itu disampaikan tentang betapa beratnya peristiwa hijrah yang pernah dilakukan Rasulullah, berjalan ratusan kilometer melintasi gurun dan bukit berbatu. Jauh lebih berat daripada longmarch tersebut. Sehingga kader-kader KOKAM diharapkan tidak mudah menyerah dan harus betul-betul menjaga kebugaran fisik. Menurut rencana KOKAM Kecamatan Minggir siap mengirimkan sekitar 15 anggotanya dalam kegiatan muktamar mendatang dan telah didaftarkan ke PWPM DIY.

Menata Gerak Dakwah di Kecamatan Minggir

Sejarah Dakwah Muhammadiyah

Sejarah dakwah di Kecamatan Minggir diwarnai dengan berbagai gejolak yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar. Pada tahun 1970-an sempat terjadi konversi agama secara besar-besaran seiring gencarnya program kristenisasi. Pada saat itu Minggir mengalami paceklik berkepanjangan sehingga sebagian besar penduduk yang mengandalkan hasil pertanian otomatis mengalami kekurangan pangan. Situasi semacam ini menjadi peluang bagi orang-orang non-muslim untuk menarik simpati dengan jalan membagikan uang, makanan dan pakaian.

Bantuan tersebut berasal dari Belanda yang didatangkan atas prakarsa Romo Tack. Langkah yang disusun secara rapi dan sistematis itu pun terus berlanjut. Orang-orang yang telah murtad kemudian dikumpulkan sebulan sekali untuk melakukan misa bersama. Bantuan semacam itu secara rutin diberikan dan bagi mereka yang berhasil memurtadkan orang Islam akan diberi tambahan.

Komposisi jumlah umat beragama mengalami perubahan mencolok. Sebelum adanya permurtadan diperkirakan jumlah umat Islam mencapai 95%, jumlah itu kemudian merosot menjadi sekitar 67%. Hal tersebut menimbulkan kesadaran sebagian umat Islam, termasuk Muhammadiyah untuk lebih serius menata gerakan dakwah di Minggir. (lihat di situs perpustakaan digital UIN Sunan Kalijaga)

Menurut data dari KUA Kecamatan Minggir per Januari 2007, dari 35.136 penduduk komposisi umat beragama di Minggir yakni, Islam sebanyak 26.082, Katholik 8.689, Kristen 769, Buda 4, dan Hindu 2. Sedangkan jumlah tempat ibadah yakni, Masjid 85, Musala 45, Langgar 14, Gereja 5, Kapel 1. Jumlah tersebut dapat dipastikan telah mengalami perubahan

Gerak Muhammadiyah di Kecamatan Minggir telah tumbuh menjadi ormas yang sangat berperan dalam dakwah Islam. Muhammadiyah telah memiliki lima ranting yang tersebar di setiap kalurahan. Lengkap dengan kepengurusan ortom (organisasi otonomnya) yakni, ‘Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiah.

Secara organisatoris Muhammadiyah Cabang Minggir resmi diakui pada tahun 1963 yakni dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 1686/A tertanggal 23 Dzulhijjah 1382 H atau bertepatan dengan 17 Mei 1963. Sejak saat itu Muhammadiyah tersu bergerak, utamanya dalam menjaga ketahanan aqidah umat Islam dari rongrongan paham komunis yang disebarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kondisi semacam itu ditanggapi secara serius oleh Muhammadiyah dan menjalin kerjasama dengan Masyumi.

Saat ini Muhammadiyah Cabang Minggir memiliki amal usaha berupa sekolah-sekolah dari TK hingga SMA/SMK dengan rincian: 10 TK ABA, 8 SD, 2 SMP dan 1 SMA/SMK. Serta satu amal usaha baru berupa Kolam Renang ‘Tirta Edukasia’.

Dari segi jumlah keanggotaan secara pasti tidak ada data yang bisa menjadi rujukan. Bila melihat jumlah pencari nomor baku Muhammadiyah (NBM) sampai tahun 2006 tercatat sebanyak 1.305 orang. Tetapi hal itu tidak bisa menjadi patokan karena banyak di antara mereka mencri NBM semata untuk persyaratan mencari kerja. Sebaliknya banyak dari aktivis Muhammadiyah yang enggan mencari NBM. Jumlahnya mungkin mencapai ribuan. Itu semua menjadi modal luar biasa untuk menggerakkan dakwah di Minggir.

Saatnya Menata Gerak Dakwah

Sudah saatnya gerak dakwah di Minggir lebih ditata lagi agar bisa mencapai hasil maksimal. Banyak faktor yang selama ini nampaknya banyak dilupakan oleh para aktivis dakwah sehingga gerakan dakwah yang ada, meskipun banyak dan intens tetapi pencapainnya kurang efektif. Saat ini berbagai lembaga/organisasi dakwah terus berupaya bergerak melakukan dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar. Sebut saja misalnya, Muhammadiyah (‘Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiah), Nahdhatul ‘Ulama (Muslimat, Anshar, Fatayat), P2A, Badko TPA, Badan Kesejahteraan Masjid (BKM), Forum Kajian Sabilul Muhtadin (FKSM), Remaja Masjid, dan organisasi dakwah lainnya.

Realitas yang ada menunjukkan mereka cenderung bergerak sendiri-sendiri dan terpisah. Sehingga terkadang menimbulkan beberapa problem yang semestinya bisa diminimalisir. Seperti, penumpukan program kerja, pelaksanaan kegiatan yang bersamaan (tidak terkoordinasi), sampai dengan penggarapan obyek dakwah yang sama. Padahal jika ada pembagian tugas dan tanggung jawab, tentu hasilnya akan lebih baik dan bisa menghemat energi serta pendanaan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membuat gerak di Minggir lebih tertata:

Pertama, membuat peta dakwah. Tidak adanya peta dakwah yang jelas dan kurang pahamnya aktivis dakwah dengan medan perjuangan yang dihadapi tentu menimbulkan hambatan. Ibarat orang berjalan mereka tidak mengetahui seperti apa jalan yang akan dilalui. Sehingga sulit menentukan arah gerakan, skala prioritas, dan mempersiapkan ‘perbekalan’.

Perlu diketahui, menurut data 2006, Kecamatan Minggir memiliki luas 27.270 Ha, terbagi menjadi 5 kalurahan dan 68 dusun. Dengan jumlah tempat ibadah, Sendangagung (20 Masjid, 10 Musala, 2 Langgar, dan 3 Gereja), Sendangarum (11 Masjid dan 1 Kapel), Sendangmulyo (19 Masjid, 10 Musala, 9 Langgar, dan 1 Gereja), Sendangrejo (19 Masjid dan 17 Musala), dan Sendangsari (16 Masjid, 9 Musala, 3 Langgar dan 1 Gereja). (dok. 2007)

Kedua, Menentukan tujuan dakwah yang jelas. Menentukan tujuan sangat penting agar dakwah yang dilakukan tidak sekedar ‘wathon mlaku’ tanpa adanya target yang ingin dicapai. Padahal gerak dakwah amatlah luas dan rasanya sulit jika semuanya harus dicapai dalam sekali tempo. Perlu dibuat tujuan yang jelas agar memudahkan dalam membuat tahapan dakwah dan evaluasi untuk mengukur proses dakwah yang dilakukan berhasil atau belum.

Ketiga, Mencari sumber dana yang kontinyu. Salah satu pilar penopang kegiatan dakwah adalah tersedianya dana yang cukup. Untuk itu perlu digagas adanya sumber dana yang dapat diandalkan secara rutin guna membiayai kegiatan dakwah. Potensi yang ada sebetulnya cukup luar biasa. Dengan jumlah umat Islam lebih dari 26 ribu, misal saja setiap orang diharuskan membayar infak Rp 1000, setiap bulan maka dana yang terkumpul akan mencapai 26 juta!

Dalam hal ini Badan ‘Amil Zakat (BAZ) tingkat kecamatan yang telah lama terbentuk semestinya bisa berperan aktif berusaha mengupayakan agar umat Islam memiliki kesadaran untuk berzakat, infak dan shadaqah demi mendukung gerakan dakwah di Kecamatan Minggir.

Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya. dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat), dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran, Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.” (Ash Shaafaat [37] : 1-4)

Sebagai penutup, marilah kita berupaya mengefektifkan gerak dakwah di Kecamatan Minggir. Gerak dakwah yang bukan sekedar gerak. Namun gerak yang tertata. Karena seperti nasihat khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, kemunkaran yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang tidak tertata.

Wallahu a’lam bi shawwab

Kamis, 07 Oktober 2010

Menulis Mengasah Ketajaman Hati dan Pikiran



“Segala sesuatu awalnya kelihatan berat dan sukar. Wajarlah jika banyak yang gugur di permulaan. Menyerah pada kenyataan. Kecuali orang-orang luar biasa yang memiliki cadangan motivasi lebih.”

Bagi banyak orang menulis dianggap sebagai suatu perkerjaan yang sulit. Sebagian lagi menganggap remeh. Tidak penting. Padahal bila kita cermati. Mau tidak mau, suka tidak suka, banyak dari kita yang akan selalu berhadapan dengan pekerjaan tulis-menulis. Mulai dari membuat tugas sekolah seperti laporan atau makalah. Hingga tugas akhir, skripsi (S1), Tesis (S2) dan Desertasi (S3) bagi mahasiswa. Selamat Datang di Dunia Jurnalistik Harus kita akui, tradisi menulis kalah populer dibanding dengan tradisi berkomunikasi dengan lisan (bicara). Mungkin kita akan betah mengobrol selama berjam-jam. Tetapi ketika disodori pena dan selembar kertas untuk menulis, kita merasa kesulitan. Bingung. Mengapa? Bukankah apa yang kita omongkan bisa kita ubah menjadi bentuk tulisan?

Yang Penting Motivasi!
Jawabnya tentu beragam. Memang dapat kita katakan bahasa lisan sangat berbeda dengan bahasa tulis. Tapi ini kita abaikan dulu. “Motivasi adalah proses aktualisasi sumber penggerak dan pendorong tingkah laku individu memenuhi kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu.” Demikian definisi motivasi menurut ilmu psikologi. Sebelum menulis coba tentukan dulu apa alasan yang mendasari kita membuat tulisan. (Alm) Mohammad Diponegoro memberikan beberapa contoh yang biasa menjadi alasan seseorang untuk menulis. Antara lain, mencari ketenaran (karena namanya akan dikenal) dan sebagai jalan mencari nafkah. Di Indonesia mungkin menulis memang belum bisa dijadikan sandaran hidup. Karena honor yang diterima penulis masih relatif kecil. Minat baca di negeri kita yang rendah menjadi salah satu penyebabnya. Berbeda dengan di luar negeri.

Sekedar contoh—untuk lebih memotivasi—kamu pasti kenal dengan JK. Rowling penulis serial Harry Potter yang kesohor itu. Ditaksir kekayaan yang dimilkinya melebihi kekayaan Ratu Elizabeth! Menulis Itu Bakat? Selamat!! Kalau kamu berpikiran demikian berarti kamu juga berbakat. Bukankah sejak kelas TK atau kelas satu SD kamu sudah pandai menulis? Mula-mula kita hanya mengenal satu dua huruf dan kesulitan untuk merangkainya. Tapi sekarang lihatlah betapa pintarnya kita menyusun kalimat-kalimat yang panjang. Apalagi saat menulis surat atau sekedar curhat ma someone (Maklum jatuh cinta!).

Thomas Alva Edison bilang, keberhasilan ditentukan 1% bakat dan 99% kerja keras. Tidak heran bila Edison yang dianggap dungu dan sempat dikeluarkan dari sekolah pada akhirnya mampu mengejutkan dunia dengan berbagai penemuannya. Menulispun demikian. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama. Tinggal bagaimana ia mengembangkan dirinya untuk menjadi penulis. Yakinlah kamu pasti… BISA!

Menulis Itu Gampang-Gampang Susah Arswendo Atmowiloto yang sempat bikin heboh dengan hasil surveinya—karena menempatkan dirinya sebagai tokoh paling digemari di atas Nabi Muhammad Saw.—mengatakan bahwa: Menulis itu gampang. Karuan saja pernyataan itu banyak mendapat protes. Toh ia memang seorang penulis yang tentu sudah piawai dalam membuat sebuah tulisan. Lha kita? Hee... Tapi untuk menarik minat calon penulis pernyataan di atas memang ada benarnya.. Coba pikir, dibilang gampang saja masih banyak yang enggan menulis apalagi dibilang susah. Jangan-jangan tidak ada yang minat. Menulis memang pekerjaan yang gampang-gampang susah. Pada awalnya mungkin kita kesulitan karena bahasa tulis berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan kita hanya berpikir bagaimana menyampaikan informasi (pesan) yang kita punya agar orang lain faham. Bahasa yang digunakan pun sangat bebas dan bervariasi tanpa menghiraukan aturan yang ada. Sedangkan dalam bahasa tulis. Kita dituntut menggunakan tanda baca yang pas dan pemilihan kata (diksi) yang tepat. Agar pesan yang kita tulis dapat dipahami secara mudah dan jelas. “Menulis berbeda dengan berbicara. Agar efektif, menulis menuntut si penulis mengungkapkan gagasannya secara tertib dan tertata,” kata Mas Hernowo, seorang penulis sekaligus editor Grup Mizan. Tetapi lambat laun. Tanpa kita sadari kemampuan ini akan terasah bila kita membiasakan diri untuk menulis. Sambil membaca hasil tulisan kita berulang-ulang. Lalu bandingkan dengan tulisan hasil karya orang lain yang dianggap lebih baik. Menulis Sambil Berenang Bisakah? Ada pepatah mengatakan: Sambil menyelam minum air. Tapi mungkinkah berenang sambil menulis? Entahlah. Tapi maksud saya bukan begitu. Ahmad Munif, seorang penulis novel yang cukup produktif (ehm..ehm..beliau juga dosen saya lho) mengibaratkan aktifitas menulis seperti berenang. Seorang yang baru belajar renang boleh saja menguasai segala macam teori tentang renang. Tetapi teori yang dikuasainya itu tidak akan berguna bila ia tidak pernah mecoba terjun ke kolam renang. Jadi syarat utama menjadi penulis ialah praktek membuat tulisan. Sekali lagi PRAKTEK. U understand? Kebiasaan bagus yang bisa kita lakukan untuk mempermudah meningkatkan kemampuan menulis yakni membuat Catatan Harian. Dalam buku Cathar itu kita bisa mengekspresikan segala apa yang kita rasakan setiap hari dalam bentuk tulisan. Jangan ragu lagi. Tulis…tulis…dan tulis…Nah…kamu sudah jadi penulis! Melatih Ketajaman Hati dan Pikiran Afwan. Sorry. bagi kamu-kamu yang punya prinsip ‘cuex is the best’ saya persilakan untuk bilang ‘Selamat Berpisah’ dengan dunia tulis menulis. Dunia penuh warna, tantangan, dan rahasia-rahasia mengejutkan. Penulis adalah seorang intelektual yang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Dengan realitas yang ada. Ia tergelitik dan tergerak bila melihat fenomena yang menyimpang dari kaidah dan tata nilai yang ada. Ia ingin agar orang lain juga tahu penyimpangan tersebut. Sehingga mampu menangkalnya. Tidak pelak untuk menjadi penulis harus siap membuka pancaindera dengan selebar-lebarnya. Mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Lalu menakarnya dengan hati. Kira-kira itu sesuai dengan norma yang ada gak ya? Sudah itu putarlah akal untuk mencari solusi yang mungkin bisa diterapkan. Tuangkan ide itu dalam tulisan agar orang lain bisa mengaksesnya. Di sinilah hati akan semakin sensitif melihat realitas. ‘You don’t care?’ but I not. Pikiran menjadi lebih aktif untuk berpikir. Bukan saja bagi diri sendiri. tetapi juga bagi orang lain. Ingat: Bukan hanya untuk diri sendiri. Sayang kan bila kapasitas kecerdasan yang kita miliki hanya dinikmati sendiri. Egois banget! Kata Rasul, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang bisa memberi manfaat kepada orang lain.”

Menjelajah Dunia Ide.
Tulisan hakikatnya merupakan ide yang dibahasakan lewat tulisan. Sebagian lagi berupa fakta yang sistematika penyajianya menurut selera penulis. Di sini juga menuntut adanya ide. Yang bagus jika ide itu belum pernah dikemukakan orang lain. Cerdas. Tepat sasaran dan mampu ‘menggerakkan’. Hingga tulisan terasa lebih hidup. Artinya penulis mesti punya stok ide yang memadai. Atau setidaknya punya cadangan biji-biji informasi yang bisa disemai menjadi ide. Konsekuensinya, orang yang ingin menulis mesti rajin-rajin mengumpulkan informasi dengan cara melihat, mengamati dan yang penting membaca! ‘Iqra’’, kata Jibril. Membaca menjadi hal wajib bagi seorang yang ingin menjadi penulis. Ibarat penampungan air. Sebelum mengalirkan air mesti diisi dulu. Tetapi pengisiannya pun harus selektif. Agar yang keluar nantinya juga sesuatu yang bermanfaat. (Harap tahu aja sekarang banyak buku ‘berbau Islam’ dan buku-buku best seller yang bisa meracuni aqidah kita. Misalnya?) BTW. Perbanyaklah membaca. Dan temukan ide-ide cemerlang. Ingat tulisanmu bisa mengubah dunia.

Copryght: Eko, Sambirejo, 06 Agustus 2005

Disampaikan Pada: Ekstra Jurnalistik SMP N 4 Prambanan Oleh:: Eko Triyanto Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga
Pemimpin Redaksi Al_Kahfi Newsletter dan Buletin Al Fajr

Rabu, 06 Oktober 2010

Ulama yang 'Alim

Tidak diragukan lagi, posisi ulama dalam Islam mendapat tempat yang istimewa. Mereka karena kelebihan ilmunya menjadi panutan umat. Memberi pencerahan sekaligus merintis jalan keteladanan. Terlebih di tengah gelombang globalisasi yang diliputi budaya permisif dan lunturnya nilai-nilai moral seperti saat ini kehadiran ulama sangat dibutuhkan.

Rasulullah menyatakan kedudukan ulama melebihi ahli ibadah, “Sesungguhnya keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan di atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar, tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban
Ulama yang dimaksud di sini adalah ulama yang ‘alim. Ulama yang memang paham mengenai ilmu agama, tidak sekedar hafal. Dengan kepahamannya itu mampu memunculkan kebijaksanaan dan solusi alternatif terhadap permasalahan yang dihadapi umat. Bukan justru memanfaatkan ilmu yang dimiliki demi meraup keuntungan pribadi atau golongan. Kepiawaian dalam berbicara bukanlah tolok ukur utama dalam menilai ulama yang ‘alim. Karena bisa jadi kemampuan yang demikian justru membuatnya begitu bebas membolak-balik kata sesuai keinginan pribadinya. Sinyalemen demikian pernah diungkapkan oleh Ibnu Mas’ud.
“Sesungguhnya kalian berada di sebuah zaman di mana jumlah ulamanya sangat banyak dan sedikit tukang khutbahnya, dan sesungguhnya akan datang sebuah zaman yang sangat banyak jumlah tukang khutbahnya namun sedikit ulamanya.”
Sekarang kita butuh ulama yang ‘alim. Yang tidak hanya pintar dalam berkhutbah, namun juga paham ilmu agama dan mampu mengaplikasikan ke-fakihan-nya dalam realitas nyata. Wallahu’alam bi shawwab.

oleh: Eko Triyanto

Blog Al Fajr Kembali Aktif


Pembaca yang yang kami hormati,
Blog Al Fajr insyaAllah akan kembali aktif dan akan kami up date secara berkala. Bagi Anda yang tidak mendapatkan edisi cetak, Anda bisa membaca artikel di blog ini. Bahkan beberapa artikel yang tidak diterbitkan dalam edisi cetak karena terbatasnya space akan berusaha kami posting dalam blog ini. Dalam hal ini pergantian admin kami lakukan karena Sdr. Ferry Setiawan, sekarang telah bekerja dengan intensitas kesibukan yang padat. Bagi Anda yang ingin mengirim artikel, kritik, saran, silakan alamatkan ke: alfajr@telkom.net. Sekian terima kasih.

Melebarkan Sayap

Bagi para pembaca yang ingin berpartisipasi dalam penerbitan Buletin Al-Fajr ini baik berupa iklan, donasi, artikel, saran dan kritik dapat menghubungi alamat redaksi.
Akhirul kalam, Selamat membaca !!!
(Atau E-mail ke: alfajr@telkom.net / mrperie@yahoo.com)